UB Gelar Webinar dengan Poltekad dan TU Berlin

Unversitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) dan Technical University Berlin menggelar Webinar Internasional bertema “Defence Science and Technology”, Kamis (22/10/2020) di Ruang Jamuan lt. 6 Gedung Rekorat UB.

Karuniawan Puji Wicaksono, SP., MP., PhD selaku Ketua Pelaksana mengatakan, webinar ini merupakan program pertama kolabroasi antara UB, Poltekad, dan TU Berlin setelah melakukan perjanjian beberapa waktu lalu.

Webinar ini juga menjadi program pertama yang menggabungkan ilmuan universitas dan bidang militer.

“Semoga tahun depan kita dapat menggelar seminar kedua dengan jumlah peserta lebih banyak dan menggelar call for paper,” katanya.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S. selaku Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerjasama UB dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggelar seminar ini.

“Kolaborasi ini sangat unik, kita menggabungkan bidang keilmuan, teknologi, dan militer. Kita harus menjaga hubungan ini dengan baik, agar dapat membawa perubahan besar di masa mendatang. Apabila kita selalu bergerak bersama, saya berharap kita dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa, teknologi dan ilmu yang besar pula,” kata lulusan IPB itu.

Tidak hanya itu, Brigjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc selaku Komandan Poltekad juga mengucapkan terima kasih kepada UB dan TU Berlin karena telah sepakat menggelar webinar internasional tersebut.

Dalam materinya yang membahas tentang ‘Strategi Manajemen Aflatoksin untuk Keamanan Pangan Militer’, Hagus menjelaskan bahwa aflatoksin merupakan mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur aspergillus flavus dan aspergillus parasiticus atau dapat juga disebut jamur sekunder yang memiliki kandungan B1, B2, G1, dan G2.

Aflatoksin sebagai mikotoksin yang paling populer adalah metabolit sekunder dari jamur dengan berat molekul rendah yang merupakan kontaminan komoditas pertanian, pangan, dan pakan.

Makanan yang mengandung aflatoksin yakni jagung, kacang tanah, kacang pohon, dan susu.

Kontaminasi aflatoksin terjadi dalam dua fase, sebelum tanaman matang dan setelah tanaman matang.

Petani dan konsumen memerlukan metode sederhana untuk mendeteksi kandungan aflatoksin dalam makanan.

Dalam proses tersebut serangga memiliki peran penting. Serangga berperan dalam keberadaan mikotoksin di beberapa tanaman.

Selain itu, serangga juga berguna sebagai pengendali kandungan mikotoksin pada tanaman dan melindungi serta menjaga kualitas makanan.

“Tentara harus tahu bagaimana memilih makanan sehat untuk diri mereka sendiri sebelum mengkonsumsinya. Ada beberapa langkah untuk mencegah formasi aflatoksin, pra panen dan pasca panen misalnya rotasi tanaman, manajemen serangga, membersihkan dan mengeringkan jagung hingga <15 % kelembapan, menggunakan strategi dekontaminasi atau mengurangi kontaminasi mikroorganisme, dan mengolah makanan (fermentasi, termal, inaktivitas),” tambahnya.

Webinar diikuti 198 peserta dari berbagai kalangan mulai siswa SMA/SMK, mahasiswa hingga Kedutaan Besar Indonesia di Jerman.

Webinar kali ini membahas lima submateri antara lain Technology Rule To Support Military Task (Human Resource Perspective) yang dibawakan oleh Brigjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc; Human Imune and Defence Mechanism Improvement on Viral and Bacterial Infection dibawakan oleh Prof. Muhaimin Rifai; serta UV Application on Water Sterilization Device dengan pemateri Dr.Rer.Nat. Norman Susilo; Aflatoxin Management Strategy for Military Food Safety dengan pemateri Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP, MP; serta Unman Werfare Concept yang dipaparkan oleh Kolonel Arh Nur Rahman, SM, MT. (VIK/Humas UB).