UB Bersama ICMI Gelar Seminar Nasional Optimalisasi Zakat dan Wakaf

Foto Ketua BAZIS UB Prof Imam Santoso Menyerahkan Beasiswa kepada Mahasiswa
Foto Ketua BAZIS UB Prof Imam Santoso Menyerahkan Beasiswa kepada Mahasiswa

Universitas Brawijaya (UB) bersama Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) menggelar Seminar Nasional bertema “Optimalisasi Pengelolaan Zakat & Wakaf berbasis Digital untuk Pemberdayaan Umat”, di Auditorium Algoritma Fakultas Ilmu Komuputer (Filkom) UB pada (25/3-26 /3/ 2024).

Rektor UB Prof. Widodo S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., dalam sambutannya menyampaikan seminar ini diadakan untuk menambah pengetahuan peserta yang hadir dalam mengelola zakat dan wakaf. Karena zakat dan wakaf tersebut dapat dipergunakan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Sesuai tema yang diangkat, hari ini akan banyak diskusi tentang zakat, wakaf, dan pemberdayaan umat Islam di Indonesia,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Dr Ir Imam Santoso MP mengatakan, selama ini pengelolaan zakat dan wakaf di UB telah terfasilitasi melalui Badan Zakat Infaq dan Sadaqah (Bazis) UB. Hingga kini dana yang terkumpul sebesar Rp 2,5 miliar.

“Nantinya, dana tersebut disalurkan sesuai peruntukannya. Misalnya, zakat didistribusikan ke panti asuhan. Ada pula yang akhirnya dikembalikan kepada mahasiswa tidak mampu dalam bentuk beasiswa. Seperti yang disalurkan kepada puluhan mahasiswa di ruang Algoritma,” kata Prof Imam.

Prof. Imam yang juga menjabat sebagai Ketua BAZIS UB tersebut mengatakan dalam kegiatan kali ini juga dilaksanakan pemberian beasiswa secara simbolik kepada perwakilan dari mahasiswa penerima manfaat.

“Total beasiswa yang diberikan adalah sebesar Rp. 1.437.252.500 untuk lebih dari 300 mahasiswa,” katanya.

Sementara itu, Ketua ICMI Prof Arif Satria mengatakan dengan memanfaatkan institusi zakat, wakaf bisa menjadi salah satu pilar bagi proses pengentasan kemiskinan, penanggulangan ketimpangan, dan juga dapat menjadi penggerak ekonomi.

“Kalau kita lihat potensi zakat itu mencapai Rp 327 triliun. Kemudian potensi wakaf lebih dari Rp 2 ribu triliun itu luar biasa. Jadi mengelola potensi yang luar biasa itu lah yang harus segera kita wujudkan,” ungkapnya.

Dia berharap dengan adanya era digital ini semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas orang yang berinfak. Sekaligus semakin memperluas partisipasi masyarakat untuk bisa langsung terlibat.

Dia menambahkan, ICMI terus berusaha untuk menjadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia. Namun inspirasi tersebut perlu diiringi dengan tindak lanjut berupa sebuah transformasi.

“Kita membangun tradisi intelektual untuk bangsa. Yakni intelektual sebagai sebuah kepedulian. Dimana kemampuan pengetahuan kita diiringi dengan jiwa yang kita arahkan untuk mengabdi, itu yang harus digarap oleh ICMI,” ujarnya.

Sehingga ICMI berusaha untuk melakukan aksi riset melalui pusat inkubasi bisnis usaha kecil (Pinbuk) yang sudah membina Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) maupun UMKM. Karena ICMI ingin menyentuh sektor riil. (HUMAS UB)