Tingkatkan Kesejahteraan Peternak, Tim Chick-in UB Menangkan Rp 100 Juta dari Pertamuda

CEO Chick-in Tubagus Syailendra (tengah), dan Direktur Utama BIIW-UB Dr. Setyono Yudo Tyasmoro, MS (kiri) dalam acara Final Top 20 Pertamuda yang digelar secara daring.

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) memenangkan kompetisi ide bisnis mahasiswa Pertamina Muda (Pertamuda) Seed and Scale 2021, dan mendapatkan penghargaan uang pembinaan sebesar Rp 100 Juta dari PT Pertamina (Persero). Kemenangan ini diumumkan pada acara Final Top 20 Pertamuda yang digelar Rabu (1/9/2021). Prestasi ini berhasil diraih karena ide bisnis yang mereka usung dinilai mengandung nilai inovasi dan berkelanjutan, yakni Chick-in.

Chick-in yang dibangun oleh Tubagus Syailendra (Hubungan Internasional FISIP) sebagai CEO, Ashab Alkafi (Agroekoteknologi FP) sebagai Chairman, dan Ahmad Syaifullah (Sistem Informasi FILKOM) sebagai Chief Technology Officer ini merupakan startup agriculture dengan solusi IoT untuk mengatasi manajemen budidaya peternakan ayam, hingga membantu peternak meningkatkan penghasilan melalui climate control dan energy meter.

“Dengan teknologi ini, para peternak bisa mengurangi operating cost atau pengeluaran, dan bisa meningkatkan pendapatan dari konversi pakan menjadi daging yang kita hemat,” jelas CEO Chick-in Tubagus Syailendra.

Selain itu, Chick-in juga memasok daging ayam frozen untuk bisnis restoran, hotel, pabrik olahan, pemerintah, dan bantuan sosial. “Saat ini dengan teknologi IoT dan software yang kami buat, kami sudah membantu 1 juta ekor ayam peternak yang tersebar di Klaten, Jawa Tengah, dan kami sudah memasok daging ayam untuk 25 industri, di antaranya Bensu, TaniHub, Sayurbox, dan rencana ke depan untuk KFC,” papar Tubagus.

Keikutsertaannya pada ajang tersebut memberikan banyak manfaat untuk kemajuan bisnisnya. “Kami bertemu dengan para mentor yang luar biasa, mereka memberi feed back yang sangat membangun, sehingga kami bisa tahu apa saja blind spot atau kelemahan produk kita, sehingga kami bisa improve lebih baik lagi,” ujarnya.

Mahasiswa angkatan 2016 ini mengungkapkan, keberhasilannya pada ajang ini tidak lepas dari peran Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha (BIIW) UB. “Selama ini BIIW berperan dalam kemajuan Chick-in sehingga kami bisa mematangkan ide bisnis dengan program mentoring dan pendanaan BIIW yang memfasilitasi kami membuat ide kami menjadi kenyataan. Kami juga bersyukur bisa membawa nama baik UB di tahun akhir kami berkuliah,” katanya.

Kompetisi ini diikuti oleh 2.025 tim dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dengan seleksi bertahap yang digelar sejak bulan Juni 2021, disaring 50 tim untuk mengikuti Demoday secara luring di Bali. Di sini mereka dinilai secara langsung oleh para mentor, praktisi, dan pakar bisnis, hingga tersaring 20 besar, dan ditentukan tiga pemenang, yakni UB, Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

Ditemui secara terpisah, Direktur Utama BIIW-UB Dr. Setyono Yudo Tyasmoro, MS mengungkapkan kebahagiaannya atas kemenangan wirausaha UB pada kompetisi nasional ini. “Kami bangga, karena pembinaan yang telah dilakukan BIIW dapat mengantarkan mahasiswa wirausaha UB menjuarai kompetisi tingkat nasional ini, bersanding dengan dua universitas besar lainnya,” ungkapnya.

Yudo menambahkan, BIIW berkomitmen untuk terus mendorong munculnya inovasi dan kewirausahaan di lingkungan UB untuk mendukung peningkatan perekonomian nasional. Sebelum Chick-in, sudah ada 9 startup binaan BIIW yang berhasil mendapat pendanaan dari Program Startup Inovasi Indonesia yang diadakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (RISTEK-BRIN).

“Kami berharap ke depannya BIIW-UB dapat semakin maju dan mendapat support untuk perluasan ruangan dan kelengkapan sarana-prasarana, sehingga dapat lebih mendukung proses inkubator wirausaha mahasiswa UB, dan wirausaha muda UB dapat semakin berkibar di tingkat nasional,” pungkas dosen Fakultas Pertanian ini. [Irene]