Tim Psikologi UB Ajarkan Regulasi Emosi Negatif Sejak Usia Dini

Tim Pengabdian Masyarakat Psikologi Universitas Brawijaya memandang anak perlu diajarkan regulasi emosi sejak dini. Karena hal inilah, mereka melakukan pengabdian di TK Insan Permata 2 Kota Malang mulai 27-28 Maret 2024.

Tim pengmas Psikologi UB, Dita Rachmayani, S.Psi., M.A mengungkapkan pada usia 4-5 tahun atau usia Taman Kanak Kanak adalah usia sekolah yang mengalami banyak situasi. Yang sebelumnya berkegiatan di lingkungan keluarga, kali ini di lingkungan sekolah yang berbeda situasi sosialnya.

“Nah, disini ada macam macam yang membuat emosi mereka terpengaruh dari situasi tersebut,” ucapnya.

Dita Rachmayani dan timnya fokus pada edukasi khususnya untuk emosi negatif seperti takut, marah dan sedih.

“Dengan adanya strategi regulasi emosi diharapkan mereka mampu untuk mengelola emosi dengan lebih baik,” jelas alumni Psikologi UB ini.

Dita menilai selama ini anak sudah mengenal emosi namun strategi mengatasinya terkadang tidak efektif.

“Ada yang berdiam diri, atau ada yang menekan perasaan jangan sampai mengeluarkan emosi,” paparnya.

“Sisi lain orang tua mungkin juga tidak paham kalau anak marah atau sedih itu tidak divalidasi dengan ya udah jangan marah. Akhirnya anak jadi menekan emosi negatifnya, padahal kalau ditekan malah berdampak negatif pada anak tersebut,” sambung Dita.

Dita berharap adanya edukasi regulasi emosi ini membuat anak anak jadi lebih diarahkan untuk mencoba berpikir kembali, atau justru sebenarnya mereka mampu untuk menghadapi emosi negatif tersebut.

“Bukan berarti kemudian diabaikan, atau dialihkan akan tetapi ya itu memang disadari emosinya,” ungkapnya.

Dalam pengabdian masyarakat ini ada beberapa metode yang dilakukan oleh tim Psikologi UB. Pertama melalui pretest, dengan menanyakan kebiasaan yang mereka lakukan ketika sedih, marah atau takut.

“Apakah saat merasa sedih mereka akan diam saja? ataukah lari ke ibunya? atau mereka berpikir itu sedihnya karena apa? apakah itu wajar atau tidak?,” kata Dita.

Setelahnya, diberikan video soal edukasi. Menurut Dita, ini dilakukan karena anak-anak sekarang lebih mudah untuk memahami informasi melalui video sehingga metode edukasi itulah yang kami berikan.

“Video ini berisi situasi-situasi saat mereka dapat memunculkan perasaan negatif tadi. Seperti misalnya sedih, nah apa yang mereka rasakan, lalu apa yang harus mereka lakukan, seperti itu,” jelas alumni Magister Psikologi UGM ini.

Lebih lanjut, setelah menonton video, anak anak tersebut akan diukur Kembali tahu atau tidak apa yang harus dilakukan.

“Kalau pre test kan diawali dengan kebiasaan mereka, kalau setelah menonton video harapannya mereka tahu apa yang sebenarnya harus mereka lakukan untuk mengatasi emosi tersebut,” jelas Dita..

Dita berharap pasca kegiatan pengabdian masyarakat ini, kemampuan anak anak meningkat untuk memahami apa yang harus dilakukan untuk menghadapi emosi negatif tersebut.

“Ya misalnya ketika merasa marah, sedih atau takut sebenarnya harus gimana? Apakah kemudian mereka harus mengalihkan perhatian dengan bermain, bernyanyi, atau bertemu ibunya, atau justru mereka itu bisa berikir kembali sebnarnya emosi sedih itu memang wajar dirasakan oleh mereka,” tegasnya.

Untuk selanjutnya karena pendidikan emosi menurut Dita sudah sejalan dengan program Direktorat Pendidikan PAUD sehingga sekolah sendiri bisa ada kompetensi untuk meningkatkan kompetensi sosial emosional.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat tim Psikologi UB diikuti oleh 4 kelas tingkat A di TK Insan Permata 2 Kota Malang. Anak anak pun antusias mengikuti berbagai kegiatan yang dipandu oleh tim dan beberapa fasilitator. (*/OKY/Humas UB)