Tim Dosen UPT PKM UB Gelar Pelatihan Literasi Digital

Pelatihan Literasi Digital oleh UPT PKM UB di SMK PGRI 3 Tlogomas

Unit Pelayanan Teknis Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (UPT PKM) Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan mengambil format Pelatihan Literasi Digital di SMK PGRI 3 Tlogomas, Malang, Selasa (02/08/2022).

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Emi Setyaningsih, S.Fil., M.Phil menyampaikan, kegiatan ini diselenggarakan melihat media sosial sebagai sumber informasi dan rujukan utama yang diakses oleh generasi milenial, meskipun menghadirkan banyak kemudahan, ternyata menyimpan lubang gelap.

“Salah satu dampak negatif dari penggunaan media sosial adalah memudarnya nilai-nilai toleransi karena konten-koten berbau SARA merangsek dan membanjiri media sosial kita. Hal tersebut memunculkan keprihatinan kami para dosen di bawah naungan UPT PKM untuk turut ser

ta berkontribusi memaksimalkan teknologi digital bagi terwujudnya generasi yang santun, toleran, dan beradab melalui program pengabdian masyarakat,” papar Emi.

Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh Emi Setyaningsih, S.Fil., M.Phil, Dr. Mohamad Anas, S.Fil.I., M.Phil, Millatuz Zakiyah, S.Pd., M.A dan Albar Adetary Hasibuan, S.Fil.I., M.Phil ini, salah satu pilarnya adalah digital culture yang memfokuskan pada pengetahuan tentang nilai-nilai toleransi sebagai landasan kecakapan digital dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam.

“Pelatihan Literasi Digital ini menyasar para siswa yang duduk di semester awal ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kecakapan dan kecerdasan digital dalam bermedia sosial yang dilandasi oleh nilai-nilai toleransi,” jelas Emi.

Millatuz Zakiyah, S.Pd., M.A saat memberikan materi tentang tantangan di era digital

Pada acara pelatihan di sesi pertama, Millatuz Zakiyah menyampaikan tentang tantangan di era digital, yakni makin maraknya ujaran kebencian (hate speech), pelintiran kebenaran (hate spin) dan muatan intoleransi dalam cuitan ataupun komentar yang diunggah oleh para pengguna sosial media.

Lebih lanjut Milla menjelaskan bahwa eskalasi konflik menajam di dunia maya dan tidak jarang berimbas ke dunia nyata. Misalnya saja ketika media sosial dimanfaatkan untuk kepentingan politik yang mengangkat isu SARA untuk memenangkan sebuah kompetisi politik.

“Hal yang sangat disayangkan adalah netizen sering sekali mendapatkan berita melalui media sosial yang belum tentu kebenaran, langsung dipercaya begitu saja, kemudian di bagikan ke orang lain. Hal ini akan semakin menumbuhsuburkan sesuatu hal yang tidak produktif, yakni intoleransi,” tegas Milla.

Dr. Mohamad Anas, S.Fil.I., M.Phil

Selanjutnya di sesi yang kedua ada Mohammad Anas, yang menyampaikan pentingnya budaya digital bagi generasi milenial. Budaya digital atau digital culture merupakan suatu hal yang membentuk cara manusia berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat yang menggunakan teknologi internet.

Menurut Anas, perlu adanya landasan bagi milenial dalam bermedia sosial sehingga tidak terjebak pada nalar, sikap, dan perilaku intoleran.

Di akhir uraiannya, Anas mengajak para siswa SMK 3 PGRI Tlogomas untuk menggunakan  media sosial sebagai jembatan yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi dengan cara memfilter  konten-konten hoax dan ujaran kebencian dan membuat konten-konten kreatif yang bernuansa toleransi.

Antusiasme para peserta dapat terlihat dari keaktifan mereka bertukar pikiran, bertanya ke narasumber, dan berpendapat di setiap materi yang tengah dipaparkan. Acara ditutup dengan serah terima souvenir dan bantuan untuk program peningkatan literasi digital di SMK 3 PGRI Tlogomas. [ES/Irene]