Teknologi Penetasan Buatan untuk Tingkatkan Produktivitas Ayam Joper

pelatihan online tentang teknologi penetasan buatan

Ayam Joper ialah akronim ayam jowo super yang merupakan persilangan ayam ras petelur betina dan ayam jantan kampung. Persilangan yang dikembangkan Balai Penelitian Ternak Unggas Dirjen Peternakan Departemen Pertanian sejak 2008 tersebut bertujuaan untuk mengoptimalkan produktivitas.

Pasalnya daging dan telur ayam kampung memiliki kandungan gizi yang tinggi dan kian digemari. Akan tetapi pada tahap budidaya terkendala tingkat pertumbuhan yang relatif lamban, serta kontinuitas dan keseragaman bibit. Sedangkan pertumbuhan ayam ras lebih pesat dan efisien dalam mengkonversi pakan menjadi produk daging dan telur.

Sebagai pemenuhan produksi hewani untuk masyarakat konsumen, Pemerintah provinsi Jawa Timur memberikan hibah ayam Joper kepada masyarakat yang berlokasi di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Mereka membentuk kelompok ternak bernama Kelompok Peternak Kejora (Kelompok Peternak Jowo Super Malang Raya) yang mewadahi peternak agar dapat berdialog dan berdiskusi tentang budidaya ayam Joper.

Namun saat ini populasi ayam Joper dari kelompok ternak yang beranggotakan 40 orang tersebut belum berkembang dengan pesat. Sebab pengetahuan tentang manajemen pemeliharaan dan teknologi penetasan buatan yang masih minim.

Oleh karenanya tim dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) minat produksi unggas berinisiatif memberikan penyuluhan kepada kelompok ternak Kejora melalui pengabdian masyarakat secara daring, Selasa (15/09/2020).

Pelatihan yang diikuti oleh 54 peserta itu diberikan oleh Dr. Ir. Edhy Sudjarwo, MS. yang memaparkan tentang teknologi mesin tetas tipe Still Air. Serta Heni Setyo Prayogi S.Pt. M.ASc. mengenai teknologi mesin tetas tipe Force Draught.

Menurut Edhy penyebaran panas pada mesin tetas jenis still air terpancar pada satu titik ke permukaan telur saja, akibatnya penerimaan panas tidak merata. Sehingga harus dilakukan pemutaran telur agar mendapat panas yang merata. Kelembaban udara hanya diperoleh dari uap air didalam nampan/bak air yang ditempatkan di bawah rak telur. Biasanya mesin tetas jenis ini digunakan pada mesin tetas sederhana dengan kapasitas telur sekitar 100 – 350 butir.

Sedangkan aliran udara pada tipe forced air penyebarannya dipaksakan memanfaatkan kipas angin, sehingga terjadi sirkulasi udara yang mengalir didalam ruang mesin tetas. Membangun mesin tetas kapasitas besar dengan jenis forced air harus mempertimbangkan berbagai perubahan thermodinamika atau sifat pemerataan panas dan kelembaban akibat perubahan ukuran inkubator. Inkubator ber ukuran besar menuntut rancangan rak bersusun untuk efisiensi ruangan.

“Kami berharap melalui pelatihan singkat ini dapat memberikan pengetahuan peternak tentang mesin penetas sehingga kedepannya dapat meningkatkan jumlah produksi ayam joper di Kabupaten Malang,” pungkas Edhy (dta/Humas UB)