Selaraskan Komitmen Sivitas Akademika dengan Membangun Kultur Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Hadirnya Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) di Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa pentingnya upaya mitigasi terhadap potensi resiko keselamatan di lingkup perguruan tinggi tidak hanya sekedar wacana program maupun sosialisasi internal semata, namun juga dibutuhkan sebuah komitmen dan profesionalitas berkelanjutan dalam jangka Panjang. Divisi K3L memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan kampus melalui implementasi pemberdayaan keselamatan kerja serta kesehatan sivitas akademika. Hal tersebut diwujudkan dalam sebuah kesepakatan bersama melalui penandatangananan komitmen K3L guna menciptakan keamanan “zero accident” di lingkup Brawijaya. Penandatanganan ini dilakukan oleh pejabat universitas mulai dari Rektor beserta Wakil Rektor, Majelis Wali Amanat, Dewan Profesor, Dekan Fakultas hingga seluruh divisi/badan usaha yang terkait, Jumat (14/6).

Prof. Widodo S.Si, M.Si, Ph.D, Med.Sc selaku Rektor UB mengungkapkan penandatanganan K3L ini merupakan langkah universitas untuk menyelaraskan persepsi dan menyatukan komitmen bersama, dimana warga kampus semakin menghargai dan memahami bagaimana menjaga lingkungan yang sehat dan nyaman ketika beraktivitas sehari-hari. “Maka dari itu komitmen ini diharapkan bisa menjadi sebuah kultur yang positif, membangun pola pikir sivitas akademika bahwa dengan menjunjung tinggi K3L kita bisa menghargai hak hidup sebagai individu yang modern, mulai dari kebersihan, kesehatan hingga keselamatan lingkungan UB,” ungkapnya.

Ada beberapa fasilitas-fasilitas penunjang yang akan bersinergi dengan K3L UB, seperti mobil ambulans dan pemadam kebakaran, peralatan pencegahan bencana standar seperti fire extinguisher, sprinkle fire yang umumnya harus tersedia di setiap gedung-gedung kampus. Selain itu adalah penanggulangan limbah laboratorium dan fasilitas kesehatan menjadi perhatian K3L karena juga memiliki resiko dan bahaya, ditambah lagi aktivitas merokok di lingkungan UB perlu adanya monitoring secara bertahap dari divisi tersebut. Persoalan environment di kampus mudah ditemui karena berbagai aktivitas yang dilakukan manusia dapat menimbulkan limbah lingkungan, contoh awarness mengenai sampah, pembedaan kategori sampah seperti plastik, organik dan anorganik terkadang masih belum terimplementasikan dengan baik. Kemudian lingkungan Ruang Terbuka Hijau telah memenuhi sanitasi atau belum, mengingat kampus UB juga dikelilingi oleh RTH yang perlu dijaga kebersihannya bersama-sama. Di sisi lain hubungan komunikasi antara pimpinan dengan semua stakeholder juga perlu diperhatikan agar manajemen stress bisa ditekan serendah mungkin, hal tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata karena berhubungan erat dengan kesehatan mental yang bisa mempengaruhi kinerja dan produktivitas.

Kepala Divisi K3L UB Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah M.Kes menambahkan apabila workshop K3L selama ini dilakukan untuk menciptakan kesadaran akan meminimalisir resiko dengan pencegahan potensi bahaya di berbagai aktivitas baik itu indoor maupu outdoor. Pihaknya berharap seluruh warga UB turut berinisiatif menerapkan K3L dengan langkah budaya membudayakan, walau dari hal-hal sekecil apapun itu. “Perlu adanya disiplin menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja, baik dalam sistem manajemen, planning, organizing, actuating, controlling dan monitoring. K3L telah membuat standar operasional prosedur yang nantinya digunakan sebagai panduan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan maupun situasi-situasi bencana yang tidak diinginkan. Maka dari itu kami juga menyelenggarakan demo pelatihan penanganan P3K dan pertolongan pertama pada kecelakaan sebagai bentuk kesiapan komitmen kami terhadap universitas,” pungkasnya. [humas]