Sekolah Kreativitas Mahasiswa FPIK Berdayakan Mulyoagung Sebagai Desa Mandiri

Sebanyak 15 Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang tergabung dalam organisasi Sekolah Kreativitas Mahasiswa berhasil mendapatkan pendanaan dalam Program Pengembangan Pemberdayaan Desa (P3D) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud.

Bekerjasama dengan Kelompok Tani Mulyosejati 1 dan TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) 3R Mulyoagung Dau Kabupaten Malang, 15 mahasiswa FPIK terdiri dari Naufal Amiruddin Hussein sebagai ketua, Lutfi, Randy, Yasmin, Aunal, Nabhela, Setiawan, Dian, Gigaranu, Grisella, Dafa, Raka, Rhobitotus, Adinda dan Ibadur Rahman.

“Program ini merupakan kegiatan lanjutan dari PHP2D yang dilaksanakan tahun lalu,”kata Perwakilan Tim Lutfi.

Lutfi menambahkan fokus dari program ini adalah pengembangan pemberdayaan skala besar kepada masyarakat Desa Mulyoagung agar lebih tertarik terhadap pembudidayaan lalat hitam.

“Integrated Technical Farm Black Soldier Fly (INTAF) merupakan sistem budidaya lalat hitam untuk mengelola dan mengurangi limbah sampah organik,”katanya.

Program INTAF secara garis besar terbagi menjadi 4 sub kegiatan, yakni pengolahan sampah, budidaya black soldier fly melalui pemanfaatan sampah organik, pengolahan hasil budidaya black soldier fly dan pembuatan pelet ikan lele.

Program INTAF ini memiliki beberapa rangkaian acara. Salah satu kegiatan yang telah terlaksana yaitu workshop P3D, tepatnya pada hari Jum’at, 3 September 2021.

Workshop ini dilaksanakan di Balai Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau dan dihadiri oleh kurang lebih 30 orang yang terdiri dari beberapa instansi yakni Kepala desa beserta jajarannya, Pembudidaya ikan Minasejahtera, PPL (Penyuluh Perikanan Lapang), Kelompok Tani Mulyosejati, dan Karya Agung (Karang Taruna Desa Mulyoagung).

Workshop ini diselenggarakan sebagai pengenalan dan pemberian materi tentang lalat hitam (BSF), cara cara budidayanya, manfaat dan kandungannya, serta prospek pasarnya.

“Kami(Pembudidaya ikan Minasejahtera) ingin mengetahui lebih dalam dan berminat untuk mempraktekkan budidaya lalat hitam ini, karena menurut kami bisa menjadi alternatif pakan lele dan usaha sampingan yang menjanjikan,”kata Suryanto saat sesi diskusi berlangsung.

Antusiasme peserta workshop sangat tinggi, terbukti dengan banyaknya topik yang ingin mereka diskusikan lebih lanjut dengan para mahasiswa P3D ini.

Budidaya lalat hitam dapat mengatasi permasalahan sampah organik, akan tetapi bukan hanya itu saja, budidaya lalat hitam juga bisa memberdayakan ekonomi masyarakat dengan hasil penjualan produk olahan BSF seperti, maggot kering, maggot fresh, dan pelet ikan.

Protein yang terkandung pada Larva Lalat Hitam ini mencapai 40%-60% yang dapat membantu peternak untuk menjadikan Larva Lalat Hitam sebagai pakan alternatif.

Proses pendampingan BSF itu dimulai dengan pembuatan kandang dan pemberian sampah organik rumah tangga sebagai makanan dari larva BSF.

Larva BSF yang menjadi pupa digunakan untuk pembuatan pelet ikan, dan limbah organik yang terurai oleh BSF menjadi pupuk. (LTF/Humas UB).