Prasetya Online

>

Press Release

Pakar Immunologi Prof. Muhaimin Rifa'i: Etos Kerja Untuk Membangun Negara Maju dan Mandiri

Submit by denok on September 08, 2017 | View : 529

Prof. Muhaimin Rifa'i di ruang kerjanya di Gedung Biologi Molekuler
Prof. Muhaimin Rifa'i di ruang kerjanya di Gedung Biologi Molekuler
Menjadi seorang dosen tidak pernah dicita-citakan oleh Prof. Muhaimin Rifa'i, PhD.Med.Sc. Sejak kecil ia berkeinginan untuk menjadi tentara, yang dalam benaknya merupakan sosok yang gagah berani. Keinginan tersebut lambat laun pun berubah ketika ia duduk di bangku kuliah. Pria kelahiran Jember 49 tahun silam ini melihat banyak kebaikan untuk menjalani profesi sebagai dosen. Setelah lulus kuliah di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya, pada 1997 ia pun memulai karier sebagai tenaga edukatif di almamaternya tersebut.

Sejak kuliah program sarjana, ayah lima orang anak ini mengaku telah memiliki ketertarikan di bidang imunologi, yang menggeluti sistem pertahanan tubuh. Ia tetap konsisten pada bidang tersebut saat menempuh program doktoral, tiga tahun setelah ia mengajar di Universitas Brawijaya. Waktu empat tahun ditempuhnya untuk menamatkan program doktoral pada School of Medicine di Nagoya University. Setengah tahun setelah ia menamatkan program doktor pada tahun 2004, ia kemudian melanjutkan studi post-doctoralpada institusi yang sama selama dua tahun. Praktis waktu enam tahun ia habiskan menempuh studi di Negeri Sakura tersebut. Bahkan anak kedua dari suami Desi Nuryati ini dilahirkan di Jepang.

Selama tinggal di Jepang, Muhaimin banyak melakukan aktivitas penelitian di laboratorium pada School of Medicine, Nagoya University. Banyak hal yang dilihatnya berbeda antara Jepang dan Indonesia. Dalam pengamatannya, orang Jepang memiliki kepedulian tinggi terhadap pekerjaan. "Mereka mulai beraktivitas pada pukul 09.00 hingga malam hari tanpa batasan waktu," katanya. Ia juga melihat etos kerja tinggi selama mereka beraktivitas. "Tanpa disuruh pun biasanya mahasiswa sudah tahu apa yang harus dikerjakan," ia menandaskan. Hanya dengan berbekal ide, dana pun mengalir tanpa batasan. "Dana penelitian sangat mudah diperoleh di sana. Jepang hanya membutuhkan ide," ujarnya. Dana penelitian pada sebuah laboratorium menjadi tanggung jawab professor yang mengepalai laboratorium tersebut. "Profesor di Jepang merupakan kepala sebuah laboratorium dan sangat ahli di bidangnya. Jika ia tidak mengepalai laboratorium maka gelar profesornya hilang. Jadi kalau di Indonesia ya semacam jabatan Dekan," terangnya. Hal ini menurutnya membedakan dengan gelar profesor di Indonesia yang bisa diperoleh setelah mengumpulkan kum 850 dan setelah itu gelar tersebut berlaku selamanya.

Sebagai seorang dosen, Muhaimin menjalankan tugas tri dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam menjalankan aktivitas penelitiannya, ia banyak menghabiskan waktu di Laboratorium Fisiologi Struktur dan Perkembangan Hewan yang terletak di samping ruangannya di Gedung Biologi Molekuler UB lantai dua. Selain itu, ia juga banyak memanfaatkan laboratorium kultur sel dan laboratorium bioinformatika yang berlokasi di gedung yang sama. "Penelitian tidak dikerjakan dengan tangan saya sendiri, sebagai dosen saya juga membantu mahasiswa," katanya. Bantuan diberikannya kepada mahasiswa melalui proses belajar mengajar maupun penelitian baik untuk program sarjana, magister maupun doktoral. Selain dari jurusan Biologi, mereka juga berasal dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian maupun Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di lingkungan Universitas Brawijaya. Sebagai upaya pengabdian kepada masyarakat, ia membantu melakukan up-grading ilmu-ilmu biologi kepada guru-guru SMA.

Beberapa mata kuliah yang ia ajarkan kepada mahasiswa Universitas Brawijaya adalah mikrobiologi kedokteran, genetika, fisiologi dan filsafat ilmu. Proses belajar mengajar tersebut ia lengkapi dengan penyusunan buku referensi yang diterbitkan oleh UB Press. Setidaknya tiga buku telah ia hasilkan. Ketiganya adalah "Autoimun dan Bioregulator (edisi 1 dan 2)" serta "Imunologi dan Alergi Hipersentif".

Menurut Muhaimin, Immunologi memiliki jangkauan luas. Diantaranya adalah pada transplantasi, jaringan, leukemia dan kanker. Saat menyelesaikan studi doktoralnya, dosen yang memiliki sitasi tinggi di google scholar ini meneliti transplantasi sumsum tulang belakang pada mencit. Penelitian ini bertujuan diantaranya untuk menyembuhkan penyakit autoimun seperti lupus dan penyakit degenerative lainnya.

Saat ini Muhaimin sedang melakukan penelitian tentang herbal medicine. "Herbal medicine bisa menstimuli sistem imun/sel-sel yang berperan untuk mengalahkan patogen baik dalam jumlah maupun kapasitasnya sehingga lebih efisien," terangnya. Salah satunya adalah albumin kelor yang bisa menyembuhkan penyakit degenerative seperti diabetes.

Selain itu, saat ini ia sedang meneliti kopi amstirdam yang dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Kota Malang. Melalui penelitian tersebut ia mengetahui bahwa kopi bisa meringankan/mengatasi pusing-pusing atau bahkan penyakit atherosclerosis, yang lebih dikenal dengan penyumbatan jantung. "Kopi bisa merangsang dilatasi/pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar dan asupan oksigen pun cukup," terangnya. Pasalnya kopi memiliki kafein yang merangsang jantung supaya kerja lebih cepat. Pusing-pusing yang disebabkan karena kekurangan oksigen menurutnya bisa dibantu dengan minum kopi satu gelas dalam satu hari. Meskipun hal ini tidak disarankan bagi mereka yang sensitive terhadap kopi, seperti merasa gemetar setelah meminumnya.

Setidaknya ada dua sumber pendanaan penelitian yang dilakukannya yakni pemerintah (Kemenristekdikti) dan industri. Meskipun ia mengaku tidak menyukai sistem pelaporan Dikti yang menurutnya rumit, birokratis dan menyita waktu, namun pihaknya tetap pantang menyerah mengajukan proposal penelitian minimal dua setiap tahunnya. "Alhamdulillah selalu lolos, terutama pada program strategis nasional untuk klaster kesehatan, gizi dan obat-obatan," terangnya. Untuk mitra industri, ia menggandeng PT. Ismut Fitomedika Indonesia yang memproduksi herbal medicine. Perusahaan ini, menurutnya mendukung penelitiannya melalui pemberian antibodi.

Muhaimin memberikan keterbukaan akses bagi mahasiswa untuk melakukan aktifitas di laboratorium. Selain immunologi, bidang yang juga menjadi garapannya adalah fisiologi dan bioinformatika. Sarana prasarana yang tersedia di laboratorium pun menurutnya sudah cukup dan berjalan dengan baik untuk mendukung aktivitasnya. Diantara alat yang tersedia adalah flow cytometry, PCR, ELISA, Western Blotting, mikroskop dan kultur. Untuk pengembangan penelitian lebih jauh, laboratorium Biologi menurutnya membutuhkan alat sequencing untuk genetika dan komputer super untuk bioinformatika yang sangat dibutuhkan dalam penelitian in-silico.

Secara khusus ia menyoroti maraknya fenomena mahasiswa cumlaude yang lulus sangat cepat dengan IPK tinggi. Maraknya mahasiswa yang lulus 3.5 tahun, menurutnya berbeda dengan perkuliahan di eranya yang lulus bisa sampai 6-7 tahun. "Mahasiswa yang lulus cepat biasanya tidak memahami lingkungannya," kata dia. Pada jamannya, ia menerangkan, mahasiswa memang harus benar-benar aktif sehingga lulus 6-7 tahun adalah hal lumrah dan banyak temannya. Fenomena lulus cepat, menurutnya mengakibatkan aktivitas non akademik kurang dan banyak organisasi mahasiswa yang ditinggalkan. Selain itu, ia menilai lulus cepat mengurangi bobot mahasiswa, karena kesempatan di laboratorium dan berdiskusi menjadi berkurang. Meskipun begitu, ia mengapresiasi mahasiswa cumlaude sebagai prestasi yang perlu diakomodasi, diantaranya melalui CPNS Kemenristekdikti 2017 yang memberi tempat khusus bagi mereka. Kepada para wisudawan/wati, ia menekankan perlunya etos kerja tinggi disertai budi pekerti yang baik sehingga negara menjadi kuat, mandiri, bukannya menjadi negara jongos.  

Bekerja Sesuai Kompetensi

Di depan 1101 wisudawan/wati UB, Rektor Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS berharap agar mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas bagi Indonesia dan sesegera mungkin bekerja sesuai kompetensi. Kompetensi, menurut Rektor adalah akumulasi kemampuan seseorang dalam melaksanakan kerja secara terukur melalui penilaian terstruktur, yang mencakup aspek kemandirian dan tanggung jawab individu pada bidang kerjanya. Karena menyangkut tanggung jawab individu, maka di dalam kompetensi termasuk pula jiwa dan semangat kewirausahaan.

Lebih jauh, berbagai prestasi yang diperoleh UB seperti Juara Umum Pimnas tiga kali berturut-turut (2015, 2016 dan 2017), diharapkan bisa menjadikan lulusan UB lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja guna mendarmabaktikan diri bagi kepentingan nusa, bangsa dan agama.

Sebagai instrumen negara dalam bidang pendidikan, Universitas Brawijaya dituntut mampu menumbuhkan kesadaran bagi sivitas akademika tentang pentingnya pendidikan yang memperkuat kompetensi (pengetahuan, ketrampilan dan sikap). Selain itu juga mampu menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Pendidikan yang ingin dibangun Universitas Brawijaya adalah pendidikan karakter yang mengedepankan kesadaran sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, budaya keilmuan serta kecintaan dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. [Denok/Humas UB]

Wisudawan/wati Terbaik Periode I Tahun Akademik 2017/2018 pada Program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana:

Fakultas Teknologi Pertanian: Susi Rahayu Wilujeng, S.TP

Fakultas Hukum: Azka Aulia Abdillah, S.H

Fakultas Ekonomi dan Bisnis: Revi Permata Lestari, S.E

Fakultas Ilmu Administrasi: Ersa Eldhyanti, S.AP

Fakultas Pertanian: Ito Fernando, S.P

Fakultas Peternakan: Dzunuraini Assalamah, S.Pt

Fakultas Teknik: Rima, S.T

Fakultas Kedokteran: Endah Muspita Ekawati, S.Gz

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan: Amelia Hudayana, S.Pi

Fakultas MIPA: Dwi Irma Kurnia, S.Si

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Riski Saumi, S.Psi

Fakultas Ilmu Budaya: Ninda Febria Ningrum, S.Pd

Fakultas Kedokteran Hewan: Pandu Gumelar Subkhi, S.KH

Fakultas Kedokteran Gigi: Yiyin Yufita Irwanti, S.KG

Fakultas Ilmu Komputer: Shinta Dewi Larasati, S.Kom

Program Magister: Titik Nur Fa'ida, M.P

Program Doktor: Dr. Kadek Wiwik Indrayanti

Program Diploma III: Iman Setyawan, A.Md

 

Related Article