Prasetya Online

>

Siaran Pers

UKM PSHT UB Gelar Kompetisi Pencak Silat

Dikirim oleh oky_dian pada 13 Juli 2018 | Dilihat : 558

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Raja Brawijaya Pencak Silat yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Universitas Brawijaya (UB)  kembali digelar selama seminggu (13/7-18/7/2018) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Universitas. Kompetisi yang diadakan tahunan ini bertujuan untuk mengenalkan Pencak Silat lebih luas kepada masyarakat nasional bahkan dunia.

Pembukaan acara Kejurnas dilaksanakan pada Jumat (13/7/2018). Sebanyak 25 tim dari berbagai Perguruan Tinggi dan SMA yang terdiri dari 300 atlet seluruh Indonesia akan bertanding pada kompetisi Pencak Silat. Kontingen yang terlibat dari yang paling jauh yaitu dari Sorong Papua, dari Jambi, Kutai Timur, Kutai Barat, Kepulauan Riau, Batam, dan Jawa. Anja Ferdi, ketua pelaksana Kejurnas mengatakan persiapan untuk menggelar kompetisi sudah dimulai sejak tahun lalu dan telah rampung.

Untuk Kejurna tahun kedua ini yang berbeda adalah dari segi partisipasinya. Tahun lalu, peserta hanya terdiri dari siswa SMA saja, namun untuk sekarang merambah ke tingkat perguruan tinggi. Hal ini didasari agar Pencak Silat dapat didukung oleh semua pihak. Pasalnya, saat ini Pencak Silat telah dijadikan cabang olahraga di Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Ada dua kategori lomba yang dikompetisikan, yaitu tanding dan non tanding. Untuk non-tanding terdiri dari Seni Tunggal, Seni Ganda, dan Seni Beregu. Untuk yang kategori tanding, akan dibedakan berdasar pada berat badan. Dalam kejuaran nanti, menggunakan sistem gugur tunggal, yaitu jika atlet kalah, maka akan langsung gugur dan yang menang akan melaju ke babak selanjutnya.

Juri pun diambil dari setiap daerah perwakilan guna menjaga kenetralan. Baik wasit dan Juri sudah mengantongi lisensi daerah.

Anja berharap kegiatan ini bisa  menjadi wadah untuk melestarikan budaya Pencak Silat Indonesia. Tanpa dibudayakan, pencak silat akan tenggelam dan kalah saing dengan budaya asing, Salah satu upayanya adalah melalui prestasi. Sebagai generasi pelestari Pencak Silat,  sudah seharusnya mewadahi dan mengenalkan sejak dini, contohnya ke para pelajar SMA untuk meningkatkan prestasi di bidang non akademik.

"Kami ingin Universitas Brawijaya menjadi pusat dan patokan kejuaraan nasional di Indonesia," Tutup Anja.