Prasetya Online

>

Siaran Pers

UB Kukuhkan Dua Gubes di Bidang Pangan Fungsional dan Teknik

Dikirim oleh oky_dian pada 27 Februari 2019 | Dilihat : 554

Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhan guru besar. Dua guru besar yang akan dikukuhkan pada Rabu (27/2/2019) adalah Prof.Dr. Ir. Tri Dewanti Widyaningsih, M.Kes. dan Prof. Ir. Ludfi Djakfar, MSCE, Ph.D.

Tri Dewanti dikukuhkan menjadi guru besar (Gubes) bidang Ilmu Gizi Pangan. Dia merupakan Gubes ke 16 di FTP dan ke 246 di UB.

Sedangkan, Ludfi Djakfar dikukuhkan menjadi Gubes bidang Teknik Jalan Raya. Dia merupakan Gubes ke-12 di FT dan  ke 247 di UB.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Prospek Pengembangan Pangan Tradisional Cincau Hitam (Mesona Palustris Bl) Sebagai Pangan Fungsional Dan Suplemen Pangan Untuk Peningkatan Kesehatan Dan Pengendalian Penyakit", Dewanti menjelaskan Cincau Hitam merupakan bahan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Tradisional.

Cincau hitam (Mesona palustriis BL) disebut Janggelan (Jawa Timur)  terbuat dari semua bagian tanaman janggelan yaitu daun, ranting, batang, dan akar. Proses pembuatan Cincau Hitam dilakukan dengan perebusan dan penambahan abu "Qi". Ekstrak yang diperoleh harus ditambahkan pati dan dipanaskan lagi agar dapat membentuk gel. Tanpa penambahan pati gel tidak akan terbentuk.

Gel cincau hitam dapat disimpan lebih lama dibandingkan gel cincau hijau. Hal ini menyebabkan penggunaan gel cincau hitam mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gel cincau hijau.

Dewanti menjelaskan Gel cincau hitam biasanya diproduksi oleh UKM dengan proses yang sederhana. Proses pembuatan gel cincau hitam umumnya kurang higienis karena gel dicetak dengan kaleng-kaleng yang korosif. Bentuk gel dengan kadar air yang tinggi membuat cincau hitam menjadi tidak awet dan mudah rusak. Oleh karena itu, perlu pengembangan produk yang lebih higienis, menarik, praktis dan awet.

"Hal inilah yang menarik dan mendorong saya untuk melakukan penelitian tentang produk-produk inovatif cincau hitam. Dari hasil penelitian selama lebih dari 10 tahun telah menghasilan beberapa jenis produk inovatif cincau hitam. Inovasi produk cincau hitam ini telah mendapatkan penghargaan 107 Karya Inovasi paling prospektif Indonesia tahun 2015 dari BIC dan Pusat Inovasi LIPI,"kata Dewanti.

Inovasi produk Cincau Hitam yang dikembangkan Dewanti telah mendapat 5 hak Paten HAKI. Produk pengembangan cincau hitam yang dikembangkannya antaralain, serbuk gel cincau hitam, Liang Teh cincau hitam, Jelly Drink Cincau, Serbuk Teh Instan, Serbuk Effervecent, Nori Cincau Hitam, Kapsul Suplemen Herbal, Wedang Uwuh Janggelan, Mie Cincau Hitam, dan Teh Celup Cincau Hitam.

Cincau hitam sebagai bahan bahan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Tradisional mempunyai manfaat sebagai Imunomodulator dan Anti Kanker, Antidiabetes, Antihiperkolesterolemia, Hepatoprotektor, Antihipertensi, Antiinflamasi, dan Antidiare.

Sedangkan Ludfi dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Penetapan Tarif Jalan Tol yang Berkeadilan" menjelaskan tentang keseimbangan dalam pembayaran tarif tol.

Menurut Ludfi, pembangunan jalan tol seolah seperti dua sisi mata uang yang berbeda. tersedianya jalan tol membantu masyarakat dalam upaya mendapatkan kenyamanan melakukan perjalanan, namun disisi lain, karena jalan tol diusahakan dalam koridor bisnis dan investasi, kurangnya pengguna tol akan mempengaruhi investasi di masa yang akan datang.

Dengan kata lain, investasi yang dilakukan oleh investor akan didistribusikan kepada pengguna jalan dalam bentuk tarif yang harus dibayar. Namun, penerapan tarif yang terlalu tinggi dapat menyebabkan keengganan calon pengguna dalam menggunakan jalan tol, yang berakibat pada turunnya nilai pendapatan tol.

"Disinilah pentingnya penetapan tarif yang berkeadilan,"kata Lutfi dalam pidatonya.

Ludfi mengatakan bahwa penentuan tari menggunakan teknik Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP) sebagaimana umumnya dilakukan saat ini, memerlukan penyempurnaan, karena belum menghasilkan tarif yang berkeadilan. Prinsip dasar ATP/WTP adalah menentukan titik temu antara kemampuan membayar dan keinginan membayar dari pengguna atau konsumen atas layanan yang dia dapatkan.

Penyempurnaan ini dapat dilakukan dengan menambahkan model perpindahaan dalam analisis, sehingga pembuat kebijakan mendapatkan pertimbangan lain tidak hanya dari kemampuaan membayar masyarakat namun juga dampaknya terhadap revenue tol.