Prasetya Online

>

Siaran Pers

Tahun ini, Program Profesi Insinyur Mulai Dibuka di UB

Dikirim oleh denok pada 10 Agustus 2018 | Dilihat : 430

Lulusan baru program sarjana diharuskan bekerja dulu minimal 2 tahun sebelum mengikuti pendidikan profesi
Lulusan baru program sarjana diharuskan bekerja dulu minimal 2 tahun sebelum mengikuti pendidikan profesi
Program Profesi Insinyur (PPI) adalah program pendidikan tinggi setelah program sarjana untuk membentuk kompetensi keinsinyuran. Di Universitas Brawijaya (UB), PPI diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI) yang ada di Fakultas Teknik. Dalam keterangannya, Ketua PSPPI Ir. Lutfi Djakfar, MSCE., PhD menyampaikan bahwa UB merupakan salah satu dari 40 penyelenggara PPI di Indonesia (26 PTN dan 14 PTS). Penugasan PSPPI ini karena UB telah memenuhi persyaratan di antaranya sudah terakreditasi A dan ada lebih dari lima program jurusan keteknikan.

Keinsinyuran adalah kegiatan teknik dengan menggunakan kepakaran dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, kemaslahatan, serta kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Sementara Insinyur adalah seseorang yang mempunyai gelar profesi di bidang Keinsinyuran.

Sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran disebutkan cakupan keinsinyuran melingkupi tujuh disiplin teknik. Ketujuh disiplin tersebut adalah kebumian dan energi, rekayasa sipil dan lingkungan terbangun, industri, konservasi dan pengelolaan sumber daya alam, pertanian dan hasil pertanian, teknologi kelautan dan perkapalan serta aeronotika dan astronotika.

Ijin PSPPI di UB, disampaikan Lutfi Djakfar telah dikeluarkan pada Oktober 2017. Sesuai pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, program ini diselenggarakan dalam dua metode pembelajaran yakni RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) dan Reguler. Baik mengikuti metode pembelajaran RPL maupun reguler, mahasiswa harus memenuhi kurikulum dengan beban 24 SKS (Sistem Kredit Semester) selama satu tahun. Kurikulum ini telah mengakomodir heterogenitas disiplin teknik dalam keinsinyuran. Mata kuliah yang ditawarkan dalam program ini adalah kode etik dan etika profesi insinyur, profesionalisme, K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan), studi kasus, praktek keinsinyuran serta seminar.

Kurikulum yang diberikan PSPPI akan melengkapi kualifikasi lulusan sarjana yang telah dijalani selama empat tahun (delapan semester) dengan beban 144 SKS. Peserta yang telah dinyatakan lulus PSPPI memperoleh Sertifikat Profesi Insinyur dari perguruan tinggi dan berhak menyandang gelar profesi keinsinyuran (disingkat Ir.).

Seseorang yang telah memiliki Sertifikat Profesi Insinyur dapat mengikuti Uji Kompetensi Insinyur Profesional yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi. Insinyur yang telah lulus Uji Kompetensi Insinyur Profesional akan memperoleh Sertifikat Kompetensi sebagai insinyur profesional. Sertifikat Kompetensi Insinyur ini memiliki kekuatan hukum untuk melakukan praktik keinsinyuran atau penyelenggaraan kegiatan keinsinyuran. Sertifikat kompetensi tersebut juga menjadi bukti tertulis untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Insinyur yang dikeluarkan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

PII adalah organisasi wadah berhimpun Insinyur yang melaksanakan penyelenggaraan Keinsinyuran di Indonesia. Organisasi ini telah menjadi anggota organisasi keinsinyuran tingkat dunia seperti World Federation of Engineering Organizations (WFEO) dan ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO). Standar kompetensi insinyur di Indonesia diharapkan bisa menjawab kebutuhan dan tantangan pembangunan di bidang teknologi, industri dan infrastruktur baik di Indonesia maupun di tingkat global. Insinyur yang dihasilkan pun diharapkan memiliki kompetensi dan mampu bersaing pada level internasional.

Program Profesi insinyur merupakan salah satu bidang keprofesian yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 036/U/1993, Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Perpres No.8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Undang-Undang nomor 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran serta Permenristekdikti No.44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Bidang keprofesian tersebut diantaranya hukum, keuangan, teknik, kedokteran, desain, militer dengan beberapa profesi yang ada di masyarakat seperti akuntan, aktuaris, advokat, arsitek, dokter gigi, pengacara, pustakawan, perawat, apoteker, dokter, professor, guru dan ilmuwan.

Jika lulusan sarjana memiliki kualifikasi level enam dalam KKNI, maka lulusan pendidikan profesi ini memiliki level tujuh. Untuk mengikuti program ini, peserta disyaratkan memiliki pengalaman kerja dalam bidang yang linier minimal dua tahun. Selama mengikuti pendidikan profesi, mereka juga akan diajar oleh dosen yang memiliki latar belakang pendidikan profesi juga. Sejauh ini, PS PPI masih menggunakan metode RPL dan baru akan membuka program regular dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Pada tahun akademik 2018/2019 ini, sebanyak 24 mahasiswa terdaftar mengikuti program ini yang mayoritas adalah dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Lutfi Djakfar menyampaikan program studi yang dipimpinnya masih memiliki hambatan seperti belum begitu memasyarakat serta belum keluarnya aturan dalam bentuk peraturan pemerintah.

Dr. Ir. Wisnumurti, MT selaku Ketua Pusat Pengembangan Relevansi Pendidikan pada Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) UB menyarankan kepada para lulusan baru untuk mengisi kompetensi terlebih dahulu dengan terjun ke dunia kerja. "Kalau pengalaman kerja sudah cukup baru masuk ke profesi," kata dia. Dosen Teknik Sipil UB ini menilai seseorang yang kaya pengalaman akan lebih matang dan memiliki kemampuan afektif lebih tinggi daripada mereka yang dihasilkan dari program percepatan. "Segala sesuatu seperti sudah melekat dan seperti di luar kepala pada seseorang yang telah berpengalaman. Karena itu pengalaman sangat mahal harganya," ia menandaskan. Hal senada juga disampaikan Lutfi Djakfar. Ia menekankan pentingnya sertifikat kompetensi insinyur bagi para sarjana teknik di masa mendatang guna menunjang karier mereka di dunia kerja.

Pada Sabtu (11/08/2018) Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS mewisuda 1.044 lulusan baru. Dari jumlah tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis memiliki jumlah terbanyak yakni 123 wisudawan/wati disusul Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (116) serta Fakultas ILmu Administrasi (102).

Di hadapan wisudawan/wati, Rektor Prof. Nuhfil Hanani menyampaikan bahwa Universitas Brawijaya sebagai bagian dari instrumen Negara dibidang pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar untuk ikut andil dalam memecahkan persoalan bangsa. UB dituntut  mampu menumbuhkan kesadaran bagi sivitas akademika tentang pentingnya pendidikan yang memperkuat kompetensi dan mampu menumbuhkan sikap kecintaan dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia.

Kompetensi sendiri menurut Guru Besar Ekonomi Pertanian ini diartikan sebagai akumulasi kemampuan seseorang dalam melaksanakan kerja secara terukur melalui asesmen terstruktur, yang mencakup aspek kemandirian dan tanggung jawab individu pada bidang kerjanya. Karena menyangkut tanggung jawab individu, maka di dalam kompetensi termasuk pula jiwa dan semangat Kemandirian serta Kewirausahaan. [Denok/Humas UB]

Berikut adalah wisudawan/wati terbaik dari seluruh fakultas dan program (diploma, sarjana dan pascasarjana) di UB untuk periode 13 tahun akademik 2018/2019 ini:

Fakultas Kedokteran: Haryadi Kurniawan, S.Kep.

Fakultas Hukum: Jessy Theresia Purba, S.H.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis: Grace Oktavia Tanti Utomo, S.E.

Fakultas Ilmu Administrasi: Sifa Arsyanda, S.Pn.

Fakultas Pertanian: Arinda Keke Gita Cahyani, S.P.

Fakultas Peternakan: Dwi Susan Setiyani, S.Pt.

Fakultas Teknik: Wafiyatus Sholihah, S.T.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan: Sidik Dika Prayoga, S.Pi.

Fakultas MIPA: Feri Eko Hermanto, S.Si.

Fakultas Teknologi Pertanian: Siti Al Maidah, S.TP.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Kholidil Amin, S.I.Kom

Fakultas Ilmu Budaya: Luly Prastuty, S.S.

Fakultas Kedokteran Hewan: Julian Mantara, S.KH.

Fakultas Kedokteran Gigi: Hilda Octaviani, S.KG

Fakultas Ilmu Komputer: Hilmi Ilyas Rizaldi, S.Kom.

Program Magister: Aldita Adin Nugraha, M.P.

Program Doktor: Dr. Rachmi Sulistyarini

Program Diploma III: Adisintya Sekarmega, A.Md.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait