Prasetya Online

>

Siaran Pers

South-East Asia Biennial Conference on Population and Health

Dikirim oleh oky_dian pada 07 November 2018 | Dilihat : 149

Pada Hari Kamis, 8 November 2018, di Hotel Singhasari Resort Batu dilaksanakan Konferensi Internasional Asia Tenggara dengan tema Populasi dan Kesehatan. Konferensi yang direncanakan akan diselenggarakan selama dua tahun sekali ini digagas oleh dua Universitas di Indonesia dan Inggris, yakni Universitas Brawijaya Malang dan University of Portsmouth, dengan diorganisir oleh Pusat Studi Kerjasama Internasional - Portsmouth-Brawijaya Centre for Global Health, Population and Policy, sebagai tuan rumah.

Konferensi ini menjadi ajang pertama pertemuan internasional dalam skala regional yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya, Malang dan University of Portsmouth, Inggris.

Konferensi regional ini juga didukung oleh Badan Nasional Kependudukan dan Keluarga Berencana Indonesia (BKKBN) sebagai salah satu sponsor utama, bersama dengan Universitas Brawijaya, University of Portsmouth, serta British Council.

Mengangkat topil Populasi dan Kesehatan di Asia Tenggara, Konferensi Internasioanl ini dimaksudkan sebagai sarana diskusi, kolaborasi, dan kerjasama para akademisi dan praktisi yang mengkaji isu-isu terkait kependudukan dan kesehatan termasuk didalamnya isu mengenai ekonomi, penyakit dan fertilitas, migrasi, serta keanekaragaman.

Lebih dari 250 peserta diharapkan dapat turut mewarnai pelaksanaan konferensi internasional tersebut, yang terdiri dari berbagai kalangan seperti kelompok ahli, anggota pemerintahan, perwakilan organisasi-organisasi masyarakat, serta akademisi, yang diharapkan dapat menciptakan sebuah diskusi mengenai kependudukan dan kesehatan di Asia Tenggara.

Asia tenggara merupakan kawasan regional yang terdiri dari 11 negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Timor-Leste, Laos, Kamboja, Myanmar, Brunei Darussalam, dan Thailand yang memiliki total populasi sebesar 750 juta penduduk. Jumlah ini hampir setara dengan tingkat populasi di Eropa. Kesebelas negara tersebut memiliki perbedaan tingkat populasi dimana Indonesia sebagai negara terpadat dengan populasi sebesar 263 juta penduduk, dan Brunei Darussalam sebagai negara dengan penduduk paling sedikit, yakni hanya sebesar kurang dari 1 juta penduduk.

Dengan adanya keanakearagam tingkat kepadatan penduduk serta kondisi demografi disetiap negara, maka perlu dibentuk sebuah organisasi atau wadah yang mengkaji mengenai kependudukan dan kesehatan di Asia Tenggara. Organisasi ini kemudian diharapkan dapat menjadi sarana bagi para peneliti demografi dan kesehatan di Asia tenggara untuk dapat mendiskusikan permasalahan serta tantangan di masa mendatang dan bersama-sama bekerja untuk menemukan solusi bagi kondisi kependudukan dan kesehatan di Asia Tenggara.