Prasetya Online

>

Siaran Pers

Lima Mahasiswa Difabel Ikut Wisuda Periode 6

Dikirim oleh vicky.nurw pada 20 Desember 2017 | Dilihat : 54

Memiliki kekurangan tidak lantas mengurangi minat belajar dan berkembang, Hal ini ditunjukkan oleh Zulfikar Anggoro Putro, mahasiswa Program Vokasi, jurusan Public Relations, Universitas Brawijaya dalam mengenyam pendidikan.

Terbukti, Zulfikar mampu menyelesaikan pendidikan diplomanya dalam waktu tiga tahun. Mahasiswa angkatan 2014 ini memilih jurusan PR untuk melatih berkomunikasi.

Ia juga merasakan pengalaman magang di sebuah sekolah menengah kejuruan sebagai resepsionis selama satu tahun. "Saya memilih jurusan Public Relations supaya melatih berkomunikasi. Ini juga didukung oleh orang tua saya", ujarnya.

Memiliki Attention Deficit of Hyperactive Disorder (ADHD), tidak lantas membuatnya berkecil hati. Tahun 2014, ia resmi menjadi mahasiswa UB melalui jakur Seleksi Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD). Dengan pendampingan voluntir, Zulfikar mampu menyelesaikan kegiatan perkuliahan. Terbukti, ia mendapatkan nilai yang baik pada ujian tugas akhir.

Alumni SMK jurusan perhotelan ini juga mampu menjelaskan tentang ADHD kepada teman-teman kuliahnya. "Banyak yang tidak paham, tapi lama kelamaan akhirnya mereka mengerti tentang ADHD. Saya juga akhirnya bisa menjelaskan tentang keberadaan PSLD ( Pusat Studi dan Layanan Disabilitas)",jelasnya.

Tidak hanya Zulfikar, terdapat tiga mahasiswa jalur SPKPD di Program Vokasi yang akan di wisuda pada Sabtu (16/11/2017). Setelah lulus, Zulfikar berharap agar mendapat pekerjaan yang layak. "Setelah lulus, saya hanya berharap agar dapat bekerja. Tidak banyak lapangan pekerjaan untuk kami di Indonesia", jelasnya. Ia pun lantas menuturkan tentang banyak tersedianya pekerjaan untuk penyandang disabilitas di negara maju. "Di beberapa negara, orang-orang seperti kami bisa bekerja di perusahaan besar. Misalnya di bidang IT untuk yang pendidikannya tentng teknologi dan komputer" jelasnya.

Agar dapat menuhi keinginan Zulfikar terhadap lapangan kerja baru, dibutuhkan banyak wirausahawan dan wirausahawati baru. Untuk itu, Universitas Brawijaya mendirikan Jusuf Kalla Inovation and Entrepreneur Center. Berdiri di bawah Badan Usaha Akademik, lembaga ini berfungsi sebagai co-working space sekaligus sebagai wadah pendidikan dan pengembangan wirausaha baru. Lembaga ini diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Senin (4/12/2017) lalu di gedung Widyaloka.

Kalla secara khusus mengapresiasi UB yang ingin mendedikasikan diri pada inovasi dan hilirisasinya. "Inovasi adalah merubah barang menjadi produk berharga dan bukan hanya sekedar untuk kenaikan pangkat atau menjadi professor," kata dia.

Ia menambahkan, riset seharusnya bisa menjawab fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Bukan hanya sekedar persyaratan untuk kenaikan pangkat saja. Melalui riset, Kalla menginginkan perguruan tinggi mampu membuat proyeksi ke depan dan bukannya menjadi museum yang justru melihat ke belakang.

UB sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia, diharapkan dapat menghasilkan berbagai penemuan baru serta berdampak pada dibukanya berbagai lapangan pekerjaan baru, termasuk untuk para penyandang disabilitas.

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, diprediksi Kalla, akan menjadi nilai tambah tersendiri di tengah fenomena kekurangan tenaga kerja yang diprediksi akan menimpa Jepang, Singapura dan China yang justru berkampanye mengurangi jumlah penduduknya. Sebagai negara yang masih mengandalkan kekayaan alam dalam ekspor, Indonesia butuh penguasaan dan implementasi teknologi. "Teknologi, riset dan pendidikan sangat penting untuk negara yang ingin berkembang," katanya. Selain itu, diperlukan pula reverse engineering seperti marak dilakukan China melalui produk yang lebih baik dan lebih murah" imbuhnya.

JKIEC sendiri merupakan lembaga yang berperan dalam melakukan inovasi dan hilirisasi penelitian serta penemuan yang dilakukan oleh sivitas akademika UB. Melalui JKIEC, akan ada pendidikan, pendampingan serta pengembangan bisnis untuk calon pengusaha muda.

Berbagai program dalam JKIEC ini, disebutkan Dr. Hery Toiba selaku Direktur Pengembangan Keuanga BUA seperti dikutip pad laman PrasetyaOnline, adalah beasiswa bagi siswa SMA maupun mahasiswa yang telah merintis dan berkomitmen dalam wirausahanya.

Selain itu, ada juga startup accelerator, diskusi rutin dalam kemasan speaker series, serta mentorship dan investment learning dari ahlinya maupun investor. Berbagai program ini akan mendapat dana abadi diantaranya dari Jusuf Kalla serta filantropi lainnya.

Hery menjelaskan, fasilitasi JKIEC akan diawali dengan ekstraksi gagasan yang kemudian dilanjutkan dengan peer to peer learning, sharing idea dan peer support, inovasi serta startup.

Dengan adanya lembaga seperti ini, diharapkan dapat menumbuhkan keinginan sivitas akademika, khususnya mahasiswa untuk menjadi wirausahawan serta membuka lapangan kerja baru yang dapat melibatkan orang-orang berkebutuhan khusus seperti Zulfikar serta memberdayakan masyarakat.

Berbekal pengetahuan dan kemampuan yang didapat selama perkuliahan, Rektor UB, Prof.Dr.Ir.Mohammad Bisri, MS percaya,para mahasiswa dan alumni akan mampu menghadapi tantangan di masa depan. Seperti yang disampaikan oleh Rektor dalam Rapat Terbuka Senat Wisuda Program Diploma, Sarjana dan Pascasarjana, Sabtu (16/11/2017) di gedung Samanta Krida. Pada periode ini, UB meresmikan gelar 1.188 alumni. [vicky]