Perlunya Attending Behaviour bagi Dosen PA untuk Pahami Mahasiswa

Dosen Psikologi FISIP-UB Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi

Dalam membantu mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi mahasiswa, dosen Penasihat Akademik (PA) memerlukan beberapa keterampilan, seperti mampu memahami dan mengamati permasalahan, attending behaviour, serta kemampuan berempati. Hal ini diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat terbuka atas permasalahan yang dihadapi, dan dosen PA dapat memberikan alternatif jalan keluar terbaik.

Demikian disampaikan Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP-UB) Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi dalam Pelatihan Bimbingan dan Konseling bagi Dosen PA UB, Rabu (18/08/2021). Kegiatan yang diadakan rutin dua kali dalam setahun oleh Pusat Pengembangan Pendidikan Akademik dan Profesional Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (P3AP-LP3M) ini digelar secara daring, dan diikuti 38 Dosen PA dari seluruh fakultas, Vokasi, Pascasarjana, dan UB Kediri.

Menurut Ulifa, bimbingan dan konseling bagi mahasiswa sangat diperlukan untuk menunjang prestasi akademik dalam perkuliahan. Jangan sampai prestasi akademik menurun, atau bahkan tidak lulus karena permasalahan yang sedang dihadapi. Untuk itu peran Dosen PA sangat dibutuhkan.

“Dosen PA sebagai konselor perlu mengamati mahasiswa melalui gestur, nada suara, gerak-gerik apakah ada ketidaksesuaian antara apa yang diucapkan dengan bahasa tubuhnya. Kemudian attending behaviour diperlukan agar mahasiswa merasa didengarkan, dihargai, dan diterima. Kepedulian ini penting sehingga mahasiswa tidak menganggap konseling hanya sebuah formalitas atau sebatas dosen yang kepo,” jelas anggota bidang bimbingan dan konseling P3AP LP3M ini.

Dari kepedulian akan tumbuh rasa empati, sehingga konselor dapat membantu mahasiswa menumbuhkan perasaan positif terhadap dirinya. Setelah itu konselor dapat mempengaruhi mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan dengan memberikan beberapa alternaif jalan keluar terbaik.

“Konselor tidak punya wewernang untuk mendikte apa yang harus dilakukan mahasiswa, namun dapat mengajak mahasiswa tersebut mempertimbangkan seluruh alternatif jalan keluar yang diberikan,” tegasnya.

Apabila dalam proses evaluasi atau identifikasi masalah belum dapat menemukan jalan keluar, maka konselor dapat melibatkan pihak terkait, misalnya teman atau pimpinan fakultas, serta memberikan rujukan untuk mendapatkan pertolongan dari orang yang ahli. [Irene]