Peran Telur di Hari Pangan Sedunia

Hari pangan sedunia yang digagas oleh Food Agriculture Organization (organisasi pangan dan pertanian) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperingati tiap tanggal 16 Oktober untuk meningkatkan kesadaran permasalahan gizi buruk akibat kemiskinan dan kelaparan.

Masa pandemi virus COVID-19 seperti sekarang menjadi salah satu pemicu kekurangan gizi buruk, karena terguncangnya perekonomian di setiap Negara. Sementara masyarakat dituntut untuk menerapkan pola dan gaya hidup sehat.

Selain ditunjang dengan olahraga, berjemur, dan rajin mencuci tangan, penting untuk mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi. Sehingga bisa memperkuat imunitas tubuh untuk melawan, mengusir, dan memusnahkan benda-benda asing yang masuk seperti bakteri, jamur, parasit, serta virus.

Menurut Dosen Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Dr. Ir. Manik Eirry Sawitri, MS, bahan pangan bersumber hewani seperti susu, ikan, daging, dan telur dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan sumber pangan hewani tersebut mengandung protein tinggi dan penghasil komponen bioaktif yang dikenal dengan Conjugated Linoleic Acid (CLA). Yakni asam lemak mengandung ikatan rangkap terkonjugasi dengan kriteria pangan alami, yang bisa dikonsumsi sebagai pangan sehari-hari dan memberikan peran positif bagi kesehatan.

Telur mengandung air, karbohidrat, lemak, protein, serta bermacam vitamin dan mineral, yang berfungsi mensinergikan tubuh. Lemak pada bagian kuning telur (yolk) disebut High Density Lipoprotein (HDL), yakni asam lemak baik yang mengandung OMEGA 3, OMEGA 6, dan OMEGA 9 yang dapat memperbaiki respon imun.

Sedangkan telur mengandung vitamin A, vitamin D, vitamin B5, vitamin B12, zat besi, vitamin E, folat, dan selenium.

“Apabila mengkonsumsi dua butir telur per hari, maka dapat memenuhi kebutuhan 14% vitamin A, 82% vitamin D, 15% vitamin B12, 20% vitamin E, 49% asam folat, dan 41% selenium, yang dihitung berdasarkan kebutuhan vitamin-vitamin tersebut per harinya,” ujar Riri.

Dia menambahkan dalam keadaan perekonomian keluarga yang terbatas seperti sekarang, telur merupakan alternatif prioritas pilihan tepat. Sebab harganya terjangkau dibandingkan dengan bahan pangan sumber protein hewani lainnya.

Hasil ternak yang memiliki hari peringatan pada 9 Oktober tiap tahunnya ini, disarankan rutin dikonsumsi bagi masyarakat usia produktif, balita dan batita dalam masa pertumbuhan, serta ibu hamil dan menyusui. Namun bagi lansia maksimal tiga butir telur seminggu mengingat efek yang bisa menimbulkan kolesterol. (dta/Humas UB)