Pemira UB 2015 dengan Sistem e-Vote

Pemilwa 2015 dengan sistem e-vote

Untuk pertama kalinya, pada Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) 16 Desember 2015, Universitas Brawijaya (UB) menggunakan sistem e-vote. Sistem e-vote digunakan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden pada Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (BEM UB) serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Selain digunakan untuk Pemira di tingkat universitas, pada tingkat fakultas, e-vote baru dipakai pada pemilwa di Fakultas Kedokteran.

e-vote merupakan metode pemberian hak suara menggunakan sistem elektronik yang mencakup proses voting dan penghitungan suara. Disampaikan perwakilan Pusat Komputer (Puskom) UB, Sofyan Arief Setya Budi, ST, M.Eng, Brawijaya-Vote kali ini berupaya untuk tidak merubah prosedur yang digunakan pada sistem manual. Sehingga tetap ada Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang meliputi verifikator pemilih serta bilik.

Brawijaya-vote merupakan hasil development dari Unit Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Di Indonesia, perguruan tinggi yang juga telah menerapkan sistem e-vote ini adalah Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Pemilihan menggunakan sistem elektronik pada Brawijaya-Vote ini hanya diaplikasikan pada pencoblosan dan penghitungan. “Secara fisik, TPS masih ada,” kata Sofyan. Dosen Teknik Mesin UB ini menambahkan, upaya ini dimaksudkan agar semangat untuk pemilihan umum tetap dipertahankan. “Pemilihan secara online bisa saja digunakan, tetapi kegembiraan pemilu menjadi hilang,” katanya. Karakteristik Brawijaya-Vote lainnya adalah memfasilitasi mahasiswa yang tidak mau memilih (abstain).

Dengan e-vote, penghitungan bisa dilakukan dengan cepat, dimana sebelumnya dengan sistem manual bisa makan waktu lama, diantaranya karena masalah teknik pencoblosan di kertas suara.

Dari total 11.597 suara yang masuk, suara abstain untuk EM sebanyak 900 suara sementara DPM sebanyak 300 suara.

Dengan waktu sekitar satu bulan, development Brawijaya-Vote berbasis Windows. [denok/Humas UB]