MMD Ajak Warga Desa Pagak Olah Limbah Pertanian dan Peternakan Berbasis IoT

Inovasi I-Compost MMD Desa Pagak dalam Pengolahan Limbah Pertanian dan Peternakan Berbasis Internet Of Things di Dusun Banyu Urip

Kelompok 13 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) berkontribusi membantu masyarakat dalam mengatasi kelangkaan pupuk di Dusun Banyu Urip, Desa Pagak, Kecamatan Pagak dengan cara memberikan pelatihan bertajuk “Pelatihan Pengolahan Limbah Pertanian dan Peternakan Menjadi Pupuk Organik Padat dan Cair”.

Kegiatan dilaksanakan Sabtu (15/7/2023) bertempat di rumah salah satu warga dengan menyasar kelompok tani dan ternak di dusun tersebut.

Ketua Tim Prima Ardian menyampaikan, Dusun Banyu Urip di Desa Pagak memiliki banyak potensi pengembangan di sektor pertanian dan peternakannya. Namun, ketersediaan pupuk di dusun ini sangat minim dan harganya mahal. Sehingga, masyarakat kesulitan dalam mendapatkan suplai pupuk dengan harga yang terjangkau.

MMD UB Kelompok 13 di Dusun Banyu Urip, Desa Pagak, Kecamatan Pagak

“Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi aktivitas masyarakat di bidang pertanian pada dusun ini dan menjadi urgensi yang perlu dipenuhi,” ungkap Prima.

Pelatihan dimulai dengan pembuatan pupuk kompos dari limbah pertanian dan pupuk kandang padat cair dari limbah peternakan. Selain pelatihan, para peserta juga melakukan praktik secara langsung dengan mahasiswa.

Pada kegiatan ini, Prima dan tim juga melakukan demonstrasi alat inovasi untuk pengembangan pengolahan limbah pertanian dan peternakan menggunakan teknologi Internet of Things yang dinamakan I-COMPOST.

Penanggung jawab program kerja I-COMPOST Fajrul Fallaah Hidayatullah menjelaskan, beberapa fitur yang ada pada alat di antaranya adalah monitor suhu, kelembaban, dan kadar gas amonia yang terdapat pada pupuk agar pupuk tetap selalu pada kondisi optimalnya.

“Kemudian terdapat kontrol pada pompa di mana dalam hal ini pompa akan otomatis mengalirkan air sesuai takaran dari berapa berat kotoran kambing yang dimasukkan pada alat. Alat ini juga dilengkapi juga dengan countdown waktu sehingga pengguna dapat mengetahui sisa waktu dari berapa lama pupuk selesai difermentasi,” jelas Fallaah.

Disampaikan Fallaah, respon masyarakat sangat antusias dalam mengikuti demonstrasi ini, terlebih lagi banyak warga yang tertarik dengan alat ini.

“Mereka menanyakan biaya pembuatan alat dan bagaimana jika alat tersebut diimplementasikan pada media yang lebih besar. Tentunya biaya pembuatan alat ini cukup terjangkau dan alat ini sangat fleksibel sehingga dapat diinstal pada media apapun. Menurut saya masih banyak pengembangan yang dapat dilakukan pada alat ini, seperti penambahan fitur pengaduk otomatis, notifikasi untuk waktu panen, penambahan beberapa sensor, dan lain sebagainya,” papar Fallaah.

Kepala Dusun Banyu Urip Bambang Yulianto menyampaikan apresiasinya atas kegiatan MMD UB di dusun ini.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan adik-adik ini, karena memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan adanya pelatihan pembuatan pupuk, yang sebelumnya sudah pernah saya ajukan, tapi masih belum ada tanggapan hingga saat ini,” ujar Bambang Yulianto. [MMD13/Irene]