MetaVisor, Membantu Penyintas Pelecehan Seksual dalam Pemulihan PTSD

MetaVisor, sebuah gagasan platform inovatif karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) guna membantu rehabilitasi PTSD bagi para penyintas pelecehan seksual. Gagasan ini menghadirkan sebuah solusi konstruktif yang dapat mempermudah aksesibilitas penyintas pelecehan seksual untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi. Tim PKM Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB yang terdiri dari I Gusti Ngurah Mayun Suryatama Giri Putra, Haidar Hanif, Muhammad Iqbal Rabani, Nathan Daud, dan Putu Diva Widi Prajnani.

Melalui bimbingan dosen Dr. Diva Kurnianingtyas, S.Kom., konsep gagasan yang telah dirancang oleh Mayun dan teman-teman tertuang dalam sebuah video gagasan konstruktif (VGK) yang berjudul “Rehabilitasi Sosial Pada Korban Pelecehan Seksual Dengan Virtual Support Group Berbasis Metaverse Guna Meningkatkan Pemulihan Diri Post Traumatic Stress Disorder.” Lewat gagasan yang diciptakan, Mayun dan tim berhasil mendapatkan pendanaan pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2023 oleh Kemdikbud Ristek dalam bidang Video Gagasan Konstruktif.

Ide mengenai gagasan ini bermula dari timbulnya keresahan atas maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zahra (2022), sekitar 70% korban pelecehan seksual mengalami PTSD yang signifikan. Hal tersebut berdampak pada minimnya akses bagi para penyintas untuk mendapatkan rehabilitasi yang sesuai terutama bagi mereka yang kesulitan untuk mengkomunikasikan kejadian yang dialami pada orang terdekat.

“Saya percaya bahwa MetaVisor bisa menjadi solusi yang sangat berguna dalam membantu masyarakat yang telah mengalami trauma akibat pelecehan seksual. Namun, tentunya gagasan ini tidak akan dapat berjalan tanpa adanya dukungan dari pihak-pihak terkait seperti masyarakat, organisasi, dan pemerintah” ucap Mayun selaku ketua tim PKM VGK.

Berangkat dari masalah tersebut, MetaVisor mengusung konsep rehabilitasi bagi penyintas pelecehan seksual berbasis metaverse dengan tujuan membantu pemulihan diri dari Post Traumatic Stress Disorder. Metaverse sendiri adalah salah satu bentuk terbaru dari perkembangan teknologi dengan karakteristik utamanya berupa dunia virtual yang dapat diakses secara online.

MetaVisor memiliki tiga fitur andalan yang terdiri dari Support Group, E-meditation, Art Therapy serta fitur bantuan berupa Tracker. Support Group sebagai fitur utama menghadirkan sebuah ruang virtual yang membantu para penyintas untuk berkumpul dengan orang-orang yang mengalami kejadian serupa sehingga dapat saling berbagi cerita, pengalaman, dan mensupport satu sama lain. Di dalamnya juga terdapat satu pendamping dan satu fasilitator agar diskusi dapat berjalan dengan kondusif.

 

Fitur lainnya, yaitu E-meditation, membantu pengguna untuk mendapatkan pengalaman meditasi sebagai salah satu cara untuk membantu penyintas pelecehan seksual dalam mengelola stress dan emosi yang dialami akibat trauma. Dalam fitur E-meditation, pengguna dapat memilih jenis meditasi yang diinginkan baik dengan gerakan atau meditasi mindfulness yang berfungsi untuk meningkatkan fokus dan kesadaran. Kemudian, pada fitur Art Therapy, pengguna bisa meregulasi kecemasan lewat terapi seni yang dihadirkan melalui mode Creative, Relaxing, dan Breakroom. Fitur ini sejalan dengan hasil penelitian Ni’matus Sholihah (2017) Fastari  dalam  artikelnya  berjudul Art  Psychotherapy yang menyatakan bahwa art therapy dapat memberikan efek positif bagi psikologi yang mengalami traumatis berlebih, terutama pada terapi menggambar atau melukis.

Melalui kemajuan teknologi yang dihadirkan dalam konsep dunia virtual, MetaVisor dapat memberikan sebuah dampak positif berupa kemudahan akses pemulihan diri bagi para penyintas pelecehan seksual yang cenderung sulit untuk mencurahkan perasaan yang dirasakan dan mendapatkan bantuan rehabilitasi akan trauma yang dialami dengan cara yang lebih efisien.  Ditegaskan kembali oleh Mayun bahwasannya penggunaan konsep metaverse dalam pemulihan PTSD bagi penyintas pelecehan seksual dapat menjadi sebuah batu loncatan yang baik bagi kemajuan teknologi dalam bidang kesehatan khususnya mental health yang kini mulai mendapatkan perhatian lebih di masyarakat. [pkmvgk/rs]