Masa Pandemi Perkumpulan DWP UB Belajar Budidaya Anggrek

pelatihan budidaya anggrek

Perkumpulan Dharma Wanita Persatuan Universitas Brawijaya (DWP UB) mengikuti pelatihan budidaya anggrek, di DD Orchid Nursery, Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Batu, Sabtu (20/03/2021). Mengingat kondisi pandemi yang belum kondusif maka pelatihan langsung dengan terjun ke lapangan dilakukan oleh pengurus inti saja. Akan tetapi anggota lainnya dapat menyaksikan secara live melalui ZOOM meeting.

Ketua organisasi, Sri Winarsih Nuhfil sembari membuka acara mengatakan bahwa kegiatan pelatihan budidaya anggrek merupakan program kerja bidang pendidikan yang rutin dilakukan tiap tahun.  Tujuannya memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi seluruh anggota DWP.

“Era pandemi seperti sekarang kami sengaja memilih pelatihan yang berhubungan dengan tanaman. Karena kebanyakan kegiatan ibu-ibu selama stay at home adalah merawat tanaman,“ kata istri Rektor UB, Prof. Nuhfil Fanani

Pertimbangan tim memilih DD Orchid Nursery sebagai tempat berlatih karena pemilik perkebunan merupakan alumni Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB yang sukses menjadi petani berskala internasional. Sehingga harapannya dapat menginspirasi keluarga besar UB untuk lebih kreatif dan inovatif.

Dedek Setia Budi selaku pemilik perkebunan sekaligus narasumber menjelaskan, secara tipe pohon anggrek diklasifikasi menjadi dua jenis yaitu monodial (batang berjumlah satu) dan sympodial (batang lebih dari satu). Sedangkan berdasarkan habitat dibedakan menjadi terestial (tumbuh di tanah) dan epifid (menempel di pohon).

Sementara itu faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menanam anggrek adalah suhu, kelembaban, sirkulasi cahaya, dan ketinggian tempat. Dari segi perawatan dapat dilakukan pemupukan dua kali seminggu di pagi hari. Sedangkan untuk pengendalian hama penyakit dapat disemprot fungisida atau pestisida tiap satu minggu sekali di pagi atau sore hari pada saat suhu di bawah 27 derajat.

“Tantangan utama menanam anggrek adalah menentukan karakteristiknya, yang menjadi acuan dalam menentukan perawatan dan pemeliharaannya. Misalnya ada jenis anggrek yang suka kering jadi tidak perlu disiram tiap hari.” jelasnya

Dedek bertani anggrek berawal dari hobi hingga kini berkembang hingga mancanegara. Dia menyukai untuk menyilangkan berbagai jenis anggrek dimana hasil persilangannnya telah diregestrasikan di The Royal Horticulture Society (RHS), Inggris.

“Total keseluruhan ada 40 jenis, yang terbaru diberi nama Dendrobium Brawijaya University dan Dendrobium Prof. Nuhfil Hanani.” ungkap Dedek sambil menyampaikan materi

“Potensi menekuni dunia anggrek sangat terbuka lebar, sebab di Indonesia sendiri belum banyak. Sedangkan permintaan pasar naik tiap tahunnya,” pungkasnya (dta/Humas UB)