Marak Kasus Gagal Ginjal pada Anak, Dosen FK UB Ajak Masyarakat Tidak Panik dan Waspada

Merebaknya kasus gagal ginjal akut pada anak beberapa waktu belakangan ini merisaukan banyak orang tua. Kasus ini mulai terdeteksi sejak bulan Agustus hingga saat ini. Merespon kejadian tersebut, Dr. Astrid Kristina Kardani, M.Biomed, Sp.A(K) dan DR. Dr. Krisni Subandiyah, Sp.A(K), dua dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya bidang Nefrologi Anak mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun jangan panik.

Pasien Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal atau disebut GGAPA, menurut Krisni, memang membuat panik. Namun ia berharap masyarakat tetap waspada. “Pasien GGAPA mayoritas umur terbanyak dari usia 2-5 tahun, kebanyakan datang dengan demam, batuk, pilek, muntah, nyeri perut dan diare”, jelasnya.

Gangguan ginjal akut bukan hal yang baru di bidang penyakit ginjal anak, menurut Astrid, akan tetapi yang bersifat atipikal (tidak diketahui penyebabnya) trennya meningkat sejak bulan Agustus 2022. “Tren yang terjadi dua hingga tiga bulan terakhir, dari kasus yang sering ditangani, 24 persen penyebabnya masih atipikal (misterius). Jika dikaitkan dengan konsumsi obat-obatan atau makanan tidak sehat, hal ini juga sering disampaikan. Namun kasus ini tidak biasa, penyebabnya belum diketahui. Kalau biasanya ada kelainan di ginjal, kelainan dehidrasi, atau kanker, tapi ini semua sudah disingkirkan. Investigasi sudah dilakukan untuk mencari penyebabnya. “Masyarakat tidak usah panik, namun tetap waspada”, ujar konsultan ginjal anak ini.

Orang tua memegang peranan penting dalam pemantauan kesehatan ini. “Ginjal adalah organ yang sangat suka dengan air, sehingga wajib minum air putih yang cukup sesuai usia dan berat badan, hindari makanan yang membebani ginjal seperti pemanis, pengawet, MSG, olahraga yang sesuai dengan usia anak, dan hindari juga konsumsi makanan yang terlalu asin. Tetap waspada namun sekali lagi, jangan panik”, pungkasnya.

GGAPA imbuh Krisni merupakan penurunan fungsi ginjal secara cepat. “Penyakit ini ditandai penurunan atau tidak adanya urin yang di produksi. Jika di lab, akan nampak peningkatan urea kreatinin. Disebut atipikal juga karena masih belum diketahui pasti penyebabnya apa. Bisa karena infeksi virus, bakteri atau penyebab lain”, terangnya.

Astrid menambahkan durasi dari gejala awal seperti demam, batuk, pilek hingga berkurangnya atau tidak munculnya urin sama sekali sekitar 4-7 hari. Durasi pengobatan juga tergantung pada respon tubuh terhadap terapi yang diterima. Dalam kondisi tertentu, pasien akan diberikan terapi hemodialisis (cuci darah) untuk membantu mengembalikan fungsi ginjal.

Kondisi akut yang tertangani dengan baik dapat mempercepat pemulihan pasien. Fungsi ginjal dapat terganggu jika ada hambatan dalam peredaran darah. Konsumsi air putih  sesuai kebutuhan dan memperhatikan kandungan dalam makanan yang dikonsumsi juga penting dalam menjaga kesehatan ginjal. (vQ)