Mahasiswa UB Teliti Peningkatan Penyerapan Kurkumin sebagai Obat Diabetes Melitus

Hasil Percobaan Sistem NLC Senyawa Kurkumin

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yaitu Yusuf Kustianto (FMIPA), Ahmad Syarwani (FMIPA), Dita Alfira (FMIPA), dan Puspa Andhia Kemala Sari (FMIPA) dibimbing Zubaidah Ningsih AS, S.Si., M.Phil, Ph.D membuat penghantar kurkumin yang dikemas dalam suatu sistem emulsi nanopartikel lipid sebagai obat herbal Diabetes Melitus.

Kurkumin merupakan suatu senyawa yang memiliki potensi besar bagi dunia kesehatan, salah satunya sebagai antidiabetes melitus.

Kurkumin sering sekali ditemui pada tanaman kunyit-kunyitan. Namun sayangnya, kurkumin ini sulit sekali dicerna oleh tubuh.

“Terkadang konsumsi kunyit-kunyitan ini jadi kurang terasa khasiatnya, karena memang senyawa utama (kurkumin) susah sekali dicerna oleh tubuh,” ujar Puspa, salah satu anggota tim.

Kurkumin memiliki kelarutan yang cukup baik dalam lemak, sehingga dengan memanfaatkan sistem Nanostructure Lipid Carrier (NLC) penyerapan kurkumin dapat meningkat 80 hingga 90 persen jika dibandingkan dengan mengkonsumsi kurkumin secara langsung.

“Nanostructure Lipid Carrier merupakan salah satu jenis sistem nanopartikel lipid yang terdiri dari campuran lemak padat berupa asam stearat dan lemak cair berupa minyak kedelai,”kata perwakilan tim Ahmad Syarwani.

Dengan adanya inovasi ini diharapkan mampu membantu dunia kesehatan Indonesia untuk melawan penyakit diabetes melitus agar tidak semakin naik.

Tim NLC berhasil memperoleh pendanaan riset dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM RE) tahun 2021. (AHD/Humas UB).