Mahasiswa UB Optimalkan Penggunaan Pupuk untuk Padi

Indonesia merupakan negara agraris di mana sebagian besar masyarakatnya bekerja di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. 

Kondisi alam dengan keadaan tanah yang subur menjadi salah satu faktor yang mendorong sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di bidang tersebut. Tanah yang subur dapat meningkatkan hasil produktivitas tanaman yang dibudidayakan.

Sayangnya petani di Indonesia masih belum mampu mewujudkan pertanian berlanjut dalam hal pemupukan. 

Menurut Pusat Penelitian Tanah Bogor, kandungan bahan organik tanah pertanian di Indonesia saat ini sangat rendah yakni kurang dari 2%, hal ini menunjukkan telah terjadi penurunan kandungan bahan organik tanah.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya penggunaan pupuk anorganik yang sangat intensif dan melebihi dosis. 

Pengaplikasian pupuk anorganik secara intensif tersebut dapat meningkatkan produktivitas tanaman dalam jangka 5-10 tahun. Namun, dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan degradasi lahan.

Penggunaan pupuk anorganik secara intensif dengan dosis yang tidak sesuai seringkali dijumpai pada budidaya tanaman padi. 

Petani padi harus mengetahui kondisi kesuburan tanah, dosis pupuk yang tepat, hingga pemilihan kandungan zat hara dalam pupuk untuk meningkatkan produktivitas padi dan meminimalisir kerusakan lingkungan. 

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk mempermudah petani dalam mengetahui kesuburan tanah dan dosis pemupukan yang tepat yakni dengan inovasi MERAPAH. 

MERAPAH merupakan alat pendeteksi unsur hara yang diciptakan oleh lima mahasiswa Universitas Brawijaya yaitu Dewi Sukma (FT), Nadia Kusuma Putri (FT), Dimas Rafliananta (FP), Suntari Nur Cahyani ((FP)), dan Hayatin Sapitri (FP) dengan bimbingan dosen Fakultas Teknik UB, Rahmadwati, S.T., M.T., Ph.D.

MERAPAH terdiri dari sistem otomasi untuk mengetahui pH tanah dan sistem informasi keadaan suatu tanaman berdasarkan pemenuhan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman padi. 

Pemantauan kadar pH dilakukan dengan menggunakan sensor pH. Pemantauan kebutuhan unsur hara pada tanaman dilakukan dengan menggunakan sensor esp 32 camera. 

Sensor kamera akan mengambil gambar dari tanaman padi dan pembacaan gambar akan menggunakan image processing untuk mendeteksi intensitas warna pada tanaman padi. 

Sensor pH tanah, dan kamera tersebut akan mengirim masukan yang telah diterima ke Arduino Nano. Kemudian nilai pH, dan hasil pengolahan citra akan dicocokkan dan dianalisis berdasarkan data-data yang telah disiapkan sebelumnya untuk mengetahui kondisi tanaman dan kebutuhan unsur hara dari tanaman padi tersebut. 

Data akhir yang berisi rekomendasi pupuk akan dikirimkan oleh Arduino nano ke aplikasi yang terdapat pada smartphone.

“Semoga inovasi ini dapat mempermudah petani dalam memberikan pupuk pada tanaman padi sehingga produktivitas tanaman padi meningkat dan tentunya memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian,” kata Dewi Sukma mewakili tim. (humasft/Humas UB)