Mahasiswa FTP Juarai Kompetisi SOI Asia 2015/2016 di Jepang

Mahasiswa FTP juarai kompetisi SOI AsiaKembali mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya harumkan nama bangsa di tingkat Asia. Dwi Novanda Sari (TIP 2013), Aginta Friska (TEP 2012), Desak Putu Ariska (TEP 2012), Reinhardt Alexandro (TEP 2012) dan Rofifah Yusadi (PWK FT 2013) yang tergabung dalam iHelp Team berhasil menjuarai kompetisi School on Internet (SOI) Asia Business and Gestation 2015/2016.

Mengusung karya ilmiah tentang mesin produksi nano fertilizer “MORFEUS”, kelima mahasiswa UB ini berhasil mengharumkan Indonesia dan meraih juara pertama pada kompetisi Business Plan tingkat Asia. Kompetisi ini diikuti 27 universitas dari 13 negara mitra se-Asia pada pengumuman SOI Asia, Kamis (21/01/2016).  Setelah berhasil meraih emas presentasi dan perak poster PIMNAS XXVIII lalu, kali ini MORFEUS yang merupakan kepanjangan dari Modern Fertilizer Ultrasound adalah Reaktor Nanofertilizer Berbasis Teknologi Frequency Ultrasound Controlling berhasil meraih juara pertama SOI 2015/2016.

Mesin ini mampu memproduksi nano fertilizer yang dapat meningkatkan penyerapan pupuk pada tanah dan tanaman. Berteknologi ultrasonik, mesin ini relatif mudah dan murah diterapkan pada pertanian karena proses nanofikasi menjadi lebih cepat. Biasanya nanofikasi pupuk membutuhkan waktu lama, namun dengan mesin ini, waktu yang diperlukan menjadi hanya sekitar 50 menit. Pupuk berukuran nano akan lebih mudah diserap tanah dan tanaman sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman.

Suasana penjurian teleconferenceDipaparkan Desak, SOI ini adalah kompetisi business plan. “Tapi berbeda dengan kompetisi lainnya, pada SOI ini kami harus mampu mengaplikasikan rancangan business plan kami secara nyata,” kata dia. Selain itu, mereka juga tidak menyangka dapat terpilih sebagai yang terbaik di tingkat Asia, sebab jalan menuju ke sini sangat panjang. Sebelumnya mereka mengirim proposal untuk kemudian dipilih lima besar dari seluruh aplikasi yang masuk. Lima besar itu kemudian melakukan presentasi teleconference untuk selanjutnya menentukan satu pemenang. “Setelah dinyatakan sebagai pemenang, kami harus merealisasikan MORFEUS kami ini selama 9-12 bulan. Selanjutnya kami akan berangkat ke Jepang untuk mempresentasikan hasil realisasi bisnis sekaligus mencari investor di beberapa perusahaan maupun universitas disana,” tandasnya.

“Kami tak menyangka tim kecil kami dapat anugerah sebesar ini. iHelp sendiri bermakna invention for help,” Reinhardt menambahkan. Pihaknya membentuk tim ini dengan harapan mampu menjangkau mereka-mereka yang kurang terperhatikan. “Harapannya penemuan kami ini tidak hanya berorientasi profit tapi juga beraspek sosial untuk menolong mereka yang tidak tertolong,” katanya. Menurutnya, hadiah tak ternilai dari kompetisi ini adalah bimbingan langsung untuk memulai bisnis, penerapan ide sekaligus perjalanan ke Jepang untuk promosi MORFEUS. “Hanya saja sebenarnya MORFEUS masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Karenanya kami terbuka pada pihak-pihak yang ingin bekerja sama untuk mengembangkan MORFEUS ini demi kemajuan bangsa,” tambah Reinhardt. [dse/Humas UB]