Mahasiswa FISIP Raih Medali Emas dalam Ajang Tanoto Student Research Award

Mahasiswa FISIP, Muhammad Nastain (Ilmu Pemerintahan 2019) dan Niken Aria (Psikologi 2020) berhasil mendapatkan penghargaan Gold Medalist of Tanoto Student Research Award 2022 National Interdisciplinary Capstone Design Challenge (ICDC).

Perlombaan yang diselenggarakan sejak enam bulan yang lalu, menyentuh babak final pada (3/11-6/11/2022) yang diikuti oleh lima mitra tanoto yakni dari UI, ITB, UNDIP, IPB dan UB.

Dari universitas tersebut harus mengirimkan 25 delegasi terpilih dan akan dibagi menjadi 25 kelompok, sehingga satu kelompok terdiri dari lima mahasiswa berbeda jurusan dan universitas.

Muhammad Nastain yang berkelompok dengan Aurelle Khadeeja Rizany dari Pendidikan Dokter Gigi Universitas Indonesia, Pranata Candra Perdana Putra dari Perikanan Tangkap Universitas Diponegoro, Kholifatul Mukhoibibah dari Kimia Institut Teknologi Bandung, dan Rizki Ananda Lubis dari Ilmu dan Teknologi Pangan IPB membuat mini planetarium sebagai inovasinya.

Mini planetarium adalah simulasi sistem tata surya dengan memberikan penjelasan narator masing masing planet disertai dengan beberapa fenomena.Jadi nggak cuman perputarannya aja tapi kita ada coding dimana mereka (planet, red) itu berputar kemudian ada penjelasan narator dan fenomenanya yang coba kita hadirkan,” jelas Nastain.

Ia juga menjelaskan dasar pembuatan inovasi ini adalah pendidikan Indonesia yang kurang memberikan simulasi dalam hal pelajaran. Padahal simulasi mampu meningkatkan ketertarikan siswa mengenai pelajaran. Ditambah data yang menyebutkan simulasi alat hanya mampu dihadirkan sekitar 40%.

Sedangkan Niken Aria membawa gagasan jelajah Alam bersama POE yang merupakan pop-up book digital berbasis teknologi augmented reality. Inovasi ini hadir bertujuan untuk mengikis stigma siswa sekolah dasar terhadap buku pembelajaran yang dianggap membosankan.

“Kami membuat desain buku pop-up 3 dimensi yang full warna dan animasi, disertai dengan penambahan tokoh atau karakter utama bernama POE, lengkap dengan alur cerita petualangan untuk menjelajahi setiap ekosistem, dan kuis interaktif untuk mengasah pengetahuan,” jelasnya.

Berkelompok dengan mahasiswa yang berbeda, Niken dan kelompoknya memiliki tanggung jawab yang berbeda dalam pembuatan inovasi. Dari teknik komputer UNDIP dan hasil hutan IPB sebagai penanggung jawab utama terkait teknologi Augmented Reality (AR). Sedangkan sains teknologi farmasi ITB,  kimia UI dan Niken sebagai penanggung jawab design dan percetakan buku.

“Jadi, kami mengangkat 10 ekosistem yang didalamnya memuat pembelajaran tentang rantai makanan, simbiosis, dan sejenisnya yang sudah disesuaikan dengan rancangan pembelajaran kurikulum sekolah oleh Kementerian Pendidikan,” ujar Niken.

Keduanya berharap inovasi ini dapat lebih dikembangkan dan diduplikasikan sehingga dapat dijadikan alat peraga pendidikan secara menyeluruh. Dan dapat mengikuti kegiatan sejenis seperti inovasi pengembangan prototype dalam dunia pendidikan atau masyarakat untuk menunjang kualitas pendidikan di Indonesia.

“Sebagai mahasiswa perlu mencoba membiasakan diri untuk melakukan hal-hal baru sehingga tidak berada di zona nyaman serta harus aware bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya berpacu pada nilai akademik namun juga berkaitan erat dengan soft dan hard skill yang harus dikembangkan dengan mengatur skala prioritas,” kata mereka dengan kompak. (Uli/Humas FISIP)[*/Humas UB]