Kisah Dua Mahasiswa UB Peserta Kampus Mengajar 6

Aurelya Dinda Pratiwi memimpin Lomba Puisi Berantai
Aurelya Dinda Pratiwi memimpin Lomba Puisi Berantai

Sebanyak 10 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Kampus Mengajar 6 yang ditugaskan ke sekolah-sekolah di Indonesia selama bulan Juli hingga Desember 2023. Program Kampus Mengajar diinisiasi oleh Kemendikbudristek menjadi sarana mahasiswa untuk terjun langsung ke dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar

PRASETYA Online berkesempatan mewawancarai dua mahasiswa peserta program tersebut yakni Bana Hasnul Fata –atau akrab dipanggil dengan Bana– dan Aurelya Dinda Pratiwi –dengan sapaan Adin, Selasa (28/5/2024). Bana bertugas di SDS Darussalam, Jakarta Utara, sedangkan Aurel di SD Islam Plus Al Azhar, Malang. Keduanya menyelenggarakan kegiatan serupa yakni Festival Literasi dan Numerik. 

 “Festival ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat mereka, terutama dalam bidang literasi dan kebudayaan, melalui berbagai lomba dan penampilan,” ungkap Bana.

Bana yang berasal dari prodi Administrasi Pendidikan mengungkapkan bahwa program Festival Literasi dan Numerasi ini merupakan salah satu tantangan yang diberikan oleh pihak penyelenggara Kampus Mengajar pusat ketika Forum Komunikasi dan Koordinasi Mahasiswa (FKKM 1). Festival ini berlangsung pada tanggal 9 November 2023 dengan pengambilan tema “Nasionalisme” sebagai tagline acara. 

“Kebetulan di hari terdekat ada tanggal perayaan Hari Pahlawan Nasional. Jadi kami ambil di tanggal 9 November untuk memberikan pengingat kepada siswa siswi terhadap jasa pahlawan negara,” katanya.

Festival Literasi dan Numerasi di SDS Darussalam menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat dalam mengekspresikan nasionalisme melalui berbagai lomba dan penampilan. Acara dimulai dengan sambutan, penampilan marawis, dan dilanjutkan dengan lomba menari tradisional, membaca puisi, bercerita, cerdas cermat, dan fashion show baju adat Indonesia. Terdapat juga photobooth untuk dokumentasi dan penghargaan bagi para pemenang.

“Kami juga berusaha menyiapkan mereka untuk tampil apik dengan melatih menari, berpuisi, bercerita/ storytelling, fashion show, dan latihan adu cerdas cermat. Di sisi lain, bantuan pun datang seperti finansial, alat-alat pendukung, dan makanan snack saat acara,” ungkap Bana.

Berbeda dengan Bana, Adin menyelenggarakan Festival Literasi dan Numerasi selama 2 hari di salah satu sekolah dasar di Kota Malang yang akrab sekali dengan bunyi kereta api yakni SD Islam Plus Al Azhar. Festival ini memainkan peran vital dalam mendekatkan literasi dan numerasi kepada para siswa. Mahasiswa dari prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia ini menyatakan bahwa kegiatan ini terbagi menjadi tiga rangkaian, yakni lomba dan penilaian Pojok Baca Kelas, lomba dan bazar Festival Literasi dan Numerasi, serta acara puncak Festival Literasi dan Numerasi. 

Lomba pojok baca kelas diadakan agar setiap kelas bisa secara bebas berkreasi dengan kreativitasnya sendiri-sendiri,” cerita Adin.

Lomba Festival Literasi & Numerasi meliputi mewarnai dan menyusun aksara untuk kelas 1-3 serta puisi berantai dan cerdas cermat untuk kelas 4-6. 

“Puncak acara ini sungguh sangat berkesan karena tidak hanya diikuti oleh warga sekolah, tetapi juga mendatangkan wali murid setiap siswa yang bisa hadir,” katanya.

Disampaikan Adin, selama satu minggu, mahasiswa Kampus Mengajar mengalokasikan satu hari untuk membantu setiap kelas mempersiapkan pojok baca, melibatkan wali murid dalam pengadaan barang-barang tertentu dan proses penilaian.  Penilaian lomba pojok baca dilakukan perwakilan yayasan, Kepala Sekolah, Dosen pembimbing Lapangan (DPL), Koordinator Wali Murid, dan Mahasiswa.

Penutupan acara Kampus Mengajar 6 diwarnai dengan apresiasi dari berbagai pihak. Bana mengungkapkan bahwa feedback dari pihak sekolah sangat positif. Kepala sekolah menyatakan bahwa program ini sangat membantu dan sejalan dengan salah satu program sekolah. Antusiasme terlihat tidak hanya dari pihak sekolah, tetapi juga dari siswa dan orang tua yang merasa kegiatan seperti lomba memberikan pengalaman baru dalam pembelajaran dan meningkatkan keberanian siswa untuk berekspresi. Masyarakat sekitar pun turut senang dan terhibur dengan acara yang diadakan di ruang terbuka. Adin juga menyampaikan bahwa saat penarikan mahasiswa dari sekolah, kepala sekolah berharap program Kampus Mengajar yang bermanfaat ini dapat terus dilaksanakan dan berkelanjutan, mengingat besar manfaat yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah. [dea/sitirahma]