Fitri Utaminingrum, Wanita Inspiratif di Bidang Computer Vision

Profesor Dr. Eng. Fitri Utamingingrum, S.T., M.T., adalah salah satu sosok wanita inspiratif yang menyandang gelar profesor di Universitas Brawijaya (UB). Dia menyandang gelar profesor aktif ke-171 di UB sekaligus profesor kedua di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) bidang Computer Vision. SK Guru Besar yang turun tanggal 01 Desember 2022 dan baru resmi dikukuhkan pada tanggal 26 Juni 2023 lalu di Gedung Samantha Krida, dengan memaparkan orasi ilmiahnya berjudul “Kursi Roda Pintar Multi Fitur Bantu Disabilitas” di hadapan rektor dan para guru besar Universitas Brawijaya.

Pusat Sistem Informasi dan Kehumasan (PSIK) FILKOM UB berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan beliau, untuk menggali lebih dalam tentang hobi, pekerjaannya, penelitian, serta pengalaman selama bertugas di FILKOM UB.

Menjaga Keseimbangan Hidup dan Pekerjaan

Sebagai seorang profesor yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Di luar kesibukannya tersebut, beliau memiliki kegemaran travelling dan wisata kuliner bersama keluarga. Beliau menganggap kegiatan ini sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan hidup dan melepaskan penat dari rutinitas kesibukan sehari-hari serta memberinya inspirasi dan kesegaran untuk terus berinovasi. Selain itu, waktu bersama keluarga juga menjadi prioritas yang tak terpisahkan.

Kisah perjalanan karir dan Kehidupan

Dibalik kebahagiaannya karena beberapa kali berhasil mendapatkan prestasi di level internasional dan yang terakhir beliau juga telah meraih penghargaan sebagai UB Inspirational Women in Science Researcher pada tahun 2023 lalu, tersimpan momen suka duka dalam perjalanan karirnya. “Saat saya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan S3 di Jepang, saya harus meninggalkan 2 anak saya yang masih kecil-kecil, bahkan newborn baby masih dalam proses ASI. Peran sebagai ibu tetap harus dijalani, proses komunikasi lintas negara dilakukan via Skype untuk mengobati kerinduan.” Meskipun terasa berat, beliau menyadari dua tanggung jawab sebagai seorang ibu dan pelajar tersebut adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik.

Dari Keharusan Menjadi Kecintaan

Dunia penelitian yang baru dikenalnya saat menempuh kuliah S3 di Jepang, di mana beliau diharuskan melakukan penelitian yang terus menerus. “Awalnya, penelitian dan publikasi terasa seperti suatu keharusan yang harus dipenuhi karena sebagai salah satu syarat kelulusan S3, bahkan hampir tiap hari saat S3 dulu harus working overtime di laboratorium untuk memenuhi target yang diberikan. Karena seringnya diminta untuk melakukan penelitian saat kuliah S3 dulu, akhirnya berdampak pada kecintaan pada dunia penelitian. Walau tidak mudah, InsyaAllah dengan ikhtiar doa serta diiringi dengan tekad dan semangat untuk terus berjuang akan mengantarkan kita ke jalan terbaik versinya Allah”. Seiring waktu, dengan rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan jawaban mendorong saya merasakan keasyikan dalam proses penelitian dan kepuasan saat berhasil menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi sekaligus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat”. Bagi beliau “penelitian bukan hanya untuk para akademisi, tetapi juga untuk siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu dan ingin memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan”

Latar belakang Penelitian Kursi Roda Pintar Multi Fitur

Sepulang dari studi S3 di Jepang, beliau melihat seorang mahasiswa disabilitas yang harus bergantung pada temannya karena tidak dapat mengoperasikan kursi roda secara mandiri karena tidak hanya memiliki disfungsi pada kaki tetapi juga pada tangan. Tergerak dari rasa empati, beliau memutuskan untuk mengembangkan Kursi Roda Pintar bersama Group riset Computer Vision agar dapat membantu mobilitas untuk mendukung kemandirian penyandang disabilitas. Beliau juga menuturkan “Saya ingin menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama khususnya para disabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban saya juga kepada Allah atas Ilmu Pengetahuan yang saya dapatkan agar bisa bermanfaat untuk sesama”.

Tantangan dalam penelitian

Deadline yang ketat dan kesukaran dalam pelaporan anggaran juga menjadi tantangan bagi peneliti. Beliau harus mampu menyelesaikan penelitiannya tepat waktu tanpa mengorbankan kualitas penelitiannya. Bahkan saat harus memenuhi kewajiban penelitian yang tidak hanya prototype kursi roda pintar sekaligus juga publikasikan hasil penelitian di jurnal Internasional bereputasi sangat baik Q1 sangatlah tidak mudah. Beliau harus melampaui beberapa tahapan proses review yang sangat panjang dan ketat bahkan pernah sampai selama-lamanya 2 tahunan.

Pengembangan Kursi roda pintar kedepannya

Terkait pengembangan kursi roda pintar kedepannya, beliau berkomitmen untuk terus mengembangkan kursi roda pintar yang terfokus pada optimalisasi fitur-fitur yang ada, serta peningkatan ergonomi demi kenyamanan penggunanya dengan menggandeng berbagai lintas bidang keilmuan sebagai bentuk upaya agar produk penelitian dapat dihirilisasi.

Pesan untuk mahasiswa

“Jangan ragu menggali potensi yang luar biasa yang dimiliki untuk berkarya, berinovasi bahkan mengubah dunia. Jangan takut gagal dan jangan pernah berhenti belajar, teruslah mengasah ilmu dan kemampuanmu agar bisa bermanfaat untuk membantu sesama”

(rr/ikz/ds).