Uji Klinis Kit Deteksi Dini Penyakit Autoimun Kelenjar Tiroid di RSUB

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Uji Klinis Deteksi Dini Penyakit Autoimun Kelenjar Getah Bening
Uji Klinis Deteksi Dini Penyakit Autoimun Kelenjar Getah Bening

Universitas Brawijaya melaksanakan Uji Klinis Kit Deteksi Dini Penyakit Autoimun Kelenjar Tiroid pada Ibu Hamil. Uji Klinis diselenggarakan, Selasa (4/10/2022) di Rumah Sakit UB (RSUB) kepada 24 pasien dari Bagian Penyakit Dalam yang memenuhi kriteria.

Uji Klinis ini dalam Rangka Program Penelitian RISPRO LPDP “Deteksi Dini Autoimmune Thyroid Disease Melalui Rapid Test Berbasis Thyroid Peroxidase (TPO) dan Thyroid Stimulating Hormon Reseptor (TSHR) Untuk Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil”.

Wakil Rektor Bidang Akademik Prof.Dr. Aulanni’am, drh.,DES didampingi Dyah Kinasih Wuragil,S.Si.,MP.,M.Sc dari Insititut Biosains mengatakan terkait uji klinis ini.

“Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam penelitian yang berjalan sejak September 2020 dengan pendanaan LPDP Kemenkeu RI selama 3 (tiga) tahun sampai dengan 2023,” ungkap Prof Aul.

Kit Deteksi Dini Penyakit Autoimun Kelenjar Tiroid

Tujuan dari penelitian ini adalah terwujudnya kit deteksi penyakit Autoimmune Thyroid Disease (AITD) dengan marker TPO-TSHR yang bererdar di masyarakat sebagai upaya dalam pencegahan penyakit akibat gangguan thyroid autoimun yang dapat menyebabkan berbagai dampak. Dampak ini terutama pada Ibu hamil dapat menyebabkan keguguran berulang, berat bayi lahir rendah (BBLR), IQ anak rendah dan kondisi stunting.

Pelaksanaan uji klinis ini dilakukan selaras dengan Permenkes No. 63 Tahun 2017 tentang Cara Uji Klinis Alat Kesehatan yang Baik (CUKAKB). Peraturan ini mengatur pelaksanaan tahap 1 dilaksanakan berdasarkan prevalensi kejadian penyakit pada populasi.

Program penelitian ini terwujud berkat kolaborasi UB dengan PT Bio Farma (Persero) sebagai salah satu produsen produk life science di Indonesia. Penggunaan kit deteksi TPO-TSHR ini diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia karena aplikasinya yang relatif mudah, sederhana dan tidak membutuhkan alat-alat khusus sehingga dapat digunakan di Fasilitas Kesehatan Tingkat 1 di seluruh Indonesia.

Sementara itu Rektor Prof. Widodo,S.Si.,M.Si.,Ph.D.Med.Sc menjelaskan bahwa produk penelitian yang diketuai Prof Aulanni’am ini didanai oleh RISPRO yaitu skema penelitian yang diselenggarakan oleh LPDP.

“Sekarang kita masuk ke tahap uji klinis. Nanti kalau hasilnya bagus, harapan kita kedepan uji klinisnya bisa lebih banyak. Sehingga nanti harapannya beberapa tahun kedepan bisa dilepas ke pasar dan bisa dipakai masyarakat,” tandasnya.[humas RSUB/siti rahma]

  From Berita UB