UB Tambah Dua Profesor dari Fakultas MIPA

Universitas Brawijaya kembali menambah daftar profesornya. Kali ini, dua orang dosen akan mengampu gelar sebagai Profesor pada Rabu, 4 Desember 2019. Kedua profesor baru ini yaitu Dr. Drs. Warsito, MS. sebagai Profesor Bidang Ilmu Kimia Organik dan Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. sebagai profesor Bidang Ilmu Manajemen Lingkungan dan Pariwisata. Warsito merupakan profesor aktif ke-21 di Fakultas MIPA, profesor aktif ke-178 dan profesor ke-255 di Universitas Brawijaya. Sedangkan Luchman merupakan profesor aktif ke-22 di Fakultas MIPA, profesor aktif ke-179 dan profesor ke-256 di Universitas Brawijaya.

Dr. Drs. Warsito, MS. : Potensi Minyak Atsiri sebagai Bahan Baku Obat dan Sintesis Obat untuk Mendukung Program Kemandirian Obat Nasional

Berada dalam masa bonus demografi membawa Indonesia pada perubahan pengaruh pola makan. Seringnya mengkonsumsi makanan tinggi lemak dibanding sayur dan buah berakibat pada meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung, stroke, gagal ginjal. Berdasarkan data WHO, prevalensi  di dunia  pada  usia  >25  tahun  mencapai  38,4%. Prevalensi  hipertensi  di  Indonesia pada usia >18 tahun mencapai 25,8% dan nilai prevalensi ini lebih besar jika dibandingkan  dengan Banglandesh, Korea, Nepal, dan Thailand  (Krishnan, et al.  2011). 

Meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif menuntut pemerintah untuk menyediakan obat secara memadai, kualitas dan kuantitasnya. Sayangnya, kebutuhan ini belum bisa sepenuhnya diakomodir oleh pemerintah dikarenakan beberapa hal, seperti belum mampunya industri kimia untuk menyediakan bahan baku obat, pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas serta belum mendukungnya teknologi sintesis dan pemurnian obat.

Minyak atsiri sebagai zat alami yang diekstrak dari tanaman aromatik memiliki efek biologis, seperti aktivitas anti-oksidan dan anti-inflamasi, sehingga minyak ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Minyak atsiri juga mampu meningkatan keseimbangan lipid, fungsi hati, fungsi endotel (penurunan : tekanan darah, stres oksidatif, trombosis), meningkatkan relaksasi vaskular dan menghambat perkembangan diabetes. Selain itu minyak atsiri juga mengandung senyawa mayor dengan struktur kimia unik, yaitu memiliki lebih dari satu pusat reaksi (gugus fungsional) yang dapat direkayasa menjadi berbagai senyawa turunannya yang berkasiat obat.

Komponen mayor minyak atsiri memiliki potensi besar sebagai bahan dasar obat. Metil salisilat (dari minyak gandapura) sebagai bahan dasar sintesis obat anti inflamasi dan analgesik. Eugenol (dari minyak cengkeh) untuk bahan dasar sintesis obat anti lesmanial. Sitronelal (dari minyak sereh/minyak jeruk purut) sebagai bahan dasar obat anti virus, anti depresan, anti bakteri dan anti oksidan. Limonen (dari minyak kulit jeruk manis) untuk bahan dasar sintesis obat anti kanker dan anti tumor.

Minyak atsiri merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang secara konvesional dapat diperoleh dengan cara hidrodistilasi atau distilasi uap, atau disebut dengan essential oil. Minyak ini banyak ditemukan pada produk sehari-hari, seperti pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci, pembersih lantai, pengharum baju, bumbu masakan hingga es krim. Minyak ini juga digunakan untuk obat tradsional dan berkhasiat seperti antiseptik, anti mikroba, anti inflamasi hingga antipiretik.

Keanekaragaman ekosistem Indonesia menghasilkan beragamnya jenis dan genetik sumber daya hayati, sehingga Indonesia dikenal sebagai biodiversitas minyak atsiri dunia, baik dari rempah, mikroganggang, ganggang, herbal, tanaman budidaya, tanaman berkayu dan non kayu.Untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri berkualitas tinggi, perlu diperluas pemanfaatannya baik sebagai bahan baku maupun komponen tunggal bahan sintesis obat baru berbasis komponen mayor minyak atsiri dengan proses modern yang efektif dan efisien.

 

Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. : Penguatan Aspek Lingkungan Dalam Industri Wisata Alam Di Indonesia Yang Berdaya Saing Dan Berkelanjutan

Sumberdaya alam dalam pembangunan pariwisata nasional memiliki posisi yang sangat strategis. Semakin meningkatnya kebutuhan wisata minat khusus untuk mengunjungi area alamiah, pemerintah Indonesia selayaknya mendorong pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistem, untuk mewujudkan destinasi wisata alam yang berdaya saing serta berkelanjutan.

Dengan semakin baiknya dukungan pendanaan, penguasaan sains dan teknologi bidang hayati, diperkirakan bahwa pada tahun-tahun selanjutnya penemuan baru spesies akan terus berlanjut dan menambah jumlah keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan tersedianya transportasi untuk menjangkau pulau-pulau terpencil, temuan-temuan ilmiah terkait penemuan spesies dan catatan baru spesies terus dilaporkan.

Semakin berkembangnya wisata berbasi ekossitem alami, maka menjadi potensi keuntungan yang dapat diambil dari kondisi tersebut. Beragam kegiatan wisata berbasis sumberdaya alam muncul dan banyak diantaranya tumbuh sebagai special interest tourism yang mampu menggerakkan perekonomian lokal. Berbagai perubahan dan perbaikan dari sisi ekonomi, sosial dan pendidikan memberikan peran besar sebagai faktor pendorong orang melakukan kegiatan rekreasi ke tempat-temat alami.

Destinasi wisata alam adalah sebuah entitas ekosistem. Orientasi pendapatan ekonomi saja tidak cukup untuk menjamin daya saing dan keberlanjutan destinasi. Sebagai sebuah entitas ekosistem, keindahan dan keberlangsungan sistem-sistem kehidupan dalam destinasi wisata berdiri atas pondasi kokoh interaksi berbagai system kehidupan dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Perbaikan sudut pandang perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata dengan meletakkan dasar-dasar keilmuan ekologi dan biologi konservasi sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan destinasi wisata. Setiap bentuk flora-fauna dan ekosistemnya mempunyai respon dan kapasitas yang beragam dalam menerima kunjungan wisatawan. Daya dukung ekologis perlu diketengahkan dalam setiap upaya perencanaandan pengembangan destinasi wisata.

Konservasi biodiversitas dalam ekosistem destinasi wisata juga memegang peran penting. Perlu sinergitas seluruh stakeholder wisata alam dalam mendorong aspek konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya sebagai salah satu pilar menuju industri wisata alam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Pembangunan sektor wisata alam harus dapat memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungannya. Penguatan area konservasi (taman nasional) sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati secara in situ sekaligus area dimana kegiatan wisata alam perlu terus dilakukan, terutama untuk memastikan kelestarian flora-fauna setempat.

Berdaya saing berarti kualitas lingkungan wisata sangat baik hingga mampu menunjukkan objek wisata dan ekosistemnya dengan unggul. Ekologi wisata dapat dibangun dengan menggabungkan instrumen sains, teknologi dan sudut pandang wisata alam untuk pengelolaan sumber daya lingkungan secara berkesinambungan. [Humas UB]

 

 

 

  From Siaran Pers