UB Kukuhkan Profesor dari FMIPA dan FPIK

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

SIARAN PERS
12 AGUSTUS 2022
Nomor 26/VIII/2022

Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua profesor baru, Sabtu (13/08/2022), di Gedung Samantha Krida.

Pertama, Prof. Dr.Eng. Agus Naba, S.Si., M.T sebagai profesor dalam bidang ilmu Sistem Cerdas. Ia merupakan profesor aktif ke-27 dari Fakultas MIPA, dan profesor aktif ke-170 di UB, serta ke-298 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Kedua, Prof. Dr.Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., M.P sebagai profesor dalam bidang ilmu Bioteknologi Produk Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia merupakan profesor aktif ke-15 dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dan profesor aktif ke-171 di UB, serta ke-299 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Prof. Dr. Eng. Agus Naba, S.Si., M.T: Pendekatan “Heuristic Artificial Intelligence Modeling (HAIM)” untuk mendukung industri 4.0

Teknologi sistem cerdas merupakan salah satu teknologi kunci dan memegang peran sentral sebagai driving force pada industri 4.0. Teknologi sistem cerdas menawarkan berbagai teknik pemodelan sistem cerdas untuk membangun model sistem cerdas berbasis data. Namun masih terdapat beberapa kendala pada pemodelan sistem cerdas.

Salah satu kendalanya adalah  data yang tersedia pada industri umumnya terisolasi atau spesifik, tidak konsisten dan  berkualitas rendah. Dengan kualitas data yang buruk dan kompleks, diolah dengan teknik preprocessing standar, serta optimasi parameter yang bersifat spekulatif, tentunya sulit mengharapkan pemodelan sistem cerdas akan menghasilkan model optimal. Model sistem cerdas yang dihasilkan bersifat black-box yang validitasnya sulit dijamin sepenuhnya.

Secara umum kendala-kendala yang dihadapi dalam pemodelan sistem cerdas bersumber dari tiga hal berikut: 1) pemodelan hanya murni berbasis data (induktif) tanpa memperdulikan pengetahuan perilaku sistem, 2) teknik optimasi parameter model bersifat spekulatif sehingga terjebak dalam parameter optimum lokal, dan 3) metode preprocessing data bersifat umum tanpa memperhatikan kompleksitas dan keunikan atau karakteristik data.

Menurut Agus Naba, pendekatan deduktif menjadi pilihan bijak selagi pengetahuan sistem tersedia. Teknik optimasi perlu dibuat lebih sistematis dan terarah, tidak lagi spekulatif. Sedangkan bergantung pada kasusnya, teknik preprocessing perlu dibangun secara spesifik berbasis keunikan sistem. Bila langkah-langkah ini bisa dilakukan, pemodelan sistem cerdas akan lebih efektif dan efisien dan potensi cacat model sistem cerdas bisa berkurang.

Untuk mengatasi kendala-kendala ini, Agus Naba mengusulkan suatu strategi yang diberi nama Heuristic AI Modeling (HAIM) atau pemodelan sistem cerdas heuristik. HAIM menyarankan tiga hal: 1) pendekatan deduktif atau gabungan deduktif-induktif lebih diprioritaskan dalam pemodelan sistem cerdas, 2) algoritma optimasi yang spekulatif diganti dengan yang lebih sistematis dan terarah, dan 3) unit preprocessor untuk ekstraksi fitur unik data perlu didesain secara spesifik per kasus.

Beberapa riset yang telah berhasil dipecahkan Agus Naba dengan menerapkan pendekatan HAIM. Contohnya, estimasi kecepatan angin pada turbin angin menggunakan model fuzzy yang dibangun secara heuristik-deduktif, optimasi pengontrol model fuzzy lebih terarah untuk memecahkan masalah pendulum terbalik, deteksi pneumonia pada citra sinar-X, deteksi obyek mobil, dan deteksi jenis gangguan pada jaringan listrik.

Prof. Dr.Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., M.P: Model Perbaikan Produk Fermentasi Perikanan Tradisional dengan Comprehensive-Product Improvement Memanfaatkan Keilmuan Bioteknologi

Produk perikanan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia masih didominasi oleh produk perikanan tradisional. Untuk mempertahankan kualitas produk, telah dikembangkan beberapa metode pengawetan. Fermentasi merupakan metode pengawetan yang paling banyak digunakan selain metode-metode lain seperti pembekuan, penggaraman dan pengasapan. Fermentasi merupakan metode pengawetan daging ikan yang murah, mudah dan hemat energi.

Produk fermentasi perikanan tradisional di Indonesia yang paling banyak dikonsumsi adalah bekasam, bekasang, budu, cincaluk, jambal roti, peda, picungan, pudu, rusip, tukai, dan kecap ikan, dan terasi.

Pengolahan hasil perikanan yang dilakukan secara tradisional masih menimbulkan beberapa permasalahan.

Secara umum terdapat beberapa kelemahan produk fermentasi tradisional yaitu: Tidak ada standar baku pengolahan, sanitasi dan higiene pengolahan yang rendah, kualitas berubah-ubah dan tidak stabil, keamanan produk tidak terjamin, dan nilai manfaat bagi kesehatan masih belum dioptimalkan.

Pendekatan perbaikan produk fermentasi perikanan umumya masih dilakukan secara parsial dan tidak melibatkan pendekatan bioteknologi.

Beberapa pendekatan yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya hanya sebatas perbaikan proses, perbaikan gizi produk fermentasi perikanan, dan perbaikan potensi fungsional. Namun semua itu hanya menyelesaikan permasalahan produk fermentasi secara parsial dan tidak terintegrasi menangani kelemahan-kelemahan produk.

Model perbaikan kualitas produk tradisional Comprehensive-Product Improvement yang memanfaatkan pendekatan bioteknologi melalui teknik-teknik rekayasa genetika, Next Generation Sequenching dan aplikasi starter konsorsium bakteria, terbukti mampu meningkatkan kualitas produk fermentasi perikanan tradisional (terasi) secara maksimal.

Keunggulan dari model yang ditawarkan ini adalah pengintegrasian keempat faktor penting yaitu perbaikan proses, perbaikan nutrisi, perbaikan mutu dan perbaikan nilai fungsional kesehatan produk dengan menggunakan pendekatan bioteknologi.

Pada Konsepsi perbaikan proses ini harus melibatkan penentuan galur spesies yang teridentifikasi, penentuan standar proses produksi dan perbaikan lingkungan proses. Sedangkan Pada perbaikan nutrisi harus dilakukan secara lengkap dengan memperhatikan luaran hasil perbaikan berupa gizi proksimat yang meningkat, penurunan anti nutrisi (fitat, tanin, dll), dan peningkatan metabolit. Perbaikan mutu produk fermentasi harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti, karakteristik fisikokimia, karakteristik organoleptik, keamanan (safety), bentuk kemasan dan telah mengikuti sertifikasi yang terus berkembang.  Sementara itu perbaikan nilai fungsional kesehatan yakni memperhatikan potensi kesehatan seperti yang sudah ditelitii sebelumnya, yakni sebagai antioksidan, antikanker, anti hipertensi, anti kolesterol, antidiabetes, anti alergi, anti gangguan gastrointestinal, dan antikardiovaskular. [Humas UB]

 

Contact Person:
Kotok Gurito, S.E.
Kepala Humas UB
0815-5551-110

Website       :   prasetya.ub.ac.id
Instagram    :   @univ.brawijaya
Twitter         :   @UB_Official
Facebook     :   @Universitas.Brawijaya.Official