Tiga Mahasiswa UB Cegah Kepunahan Bahasa Lembak

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya meneliti mengenai Enkulturasi Bahasa Lembak dalam Perspektif Etnografi Komunikasi guna Mendukung Program SDGs 2030, tujuannya untuk menyelamatkan bahasa itu dari kepunahan.

Tiga mahasiswa itu terdiri dari Jamilatun Faidah (FMIPA/2018), Engga Widinata (FMIPA/2018) dan Fauzi Setyawan Pratama (FISIP/2017).

“Kita sebagai generasi muda penerus bangsa, penting untuk mempelajari dan melestarikan bahasa daerah karena budaya berbahasa daerah kita telah menipis dan kalau bukan kita siapa lagi” Ucap Faidah, Ketua tim dalam penelitian ini.

Ia mengatakan, penelitian yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) itu, selain bertujuan menyelamatkan bahasa Lembak yang terancam punah, juga mengangkat warisan budaya.

“Karena bagi saya mengeksplorasi budaya itu tidak hanya dari asal suku kita, tapi bagaimana untuk kita belajar lebih jauh warisan budaya lain dan membuktikan seberapa kaya Indonesia itu,” tambah Engga salah satu anggota tim.

Ketiga mahasiswa itu melakukan penelitian di bawah bimbingan dosen Dr. Dra. Umu Sa’adah, M.Si.

Sementara itu, berdasarkan penelitian terdahulu, bahasa Lembak pertama kali terekam pada tulisan aksara daerah, yakni aksara Ulu, aksara turunan dan perkembangan dari aksara Pasca Pallava.

Salah satu ciri khas bahasa Lembak, kata dia, adalah penggunaan akhiran e semisal kata apa dalam bahasa Lembak berarti ape (dibaca: apé) dan juga memiliki beberapa kosakata yang berbeda dibandingkan dengan bahasa daerah Bengkulu lainnya.

“Beberapa contoh bahasa lembak diantaranya Ame-ame (bahasa lembak) Kupu-kupu (bahasa Indonesia),” katanya.

Akan tetapi penggunaan bahasa lembak khususnya bagi para remaja sudah mulai mengalami pergeseran, seperti kata ngapo yang dalam bahasa lembak seharusnya ngape dan dalam bahasa Indonesia mengapa.

Ia berharap, penelitian ini sebagai upaya menjaga dan melestarikan bahasa daerah di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat penutur Lembak,

“Selain itu kami juga memiliki akun media sosial instagram (@cerita.lembak) yang berisi 3B (Bedah Penelitian, Belajar kosa kata bahasa lembak, dan Bercakap),” katanya. [PKM/Humas UB]

 See also