Suplementasi Nanoemulsi Pegagan Pada Zebrafish sebagai Hewan Model Skizofrenia

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Skizofrenia merupakan suatu gangguan mental kronis yang memengaruhi lebih dari 24 juta individu, atau sekitar 1 dari 300 orang (sekitar 0,32%) di seluruh dunia. Gangguan ini ditandai oleh distorsi dalam berpikir, persepsi, emosi, bahasa, rasa identitas, dan perilaku. Gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi gejala positif, negatif, dan kognitif.

Saat ini, pengobatan skizofrenia banyak mengarah ke regulasi neurotransmitter dopamine. Penelitian terdahulu  menunjukkan bahwa empat antipsikotik generasi kedua (SGA) seperti olanzapine, clozapine, risperidone, dan amisulpride, memiliki efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan antipsikotik generasi pertama (FGA. Pengobatan yang ada masih seringkali menghadapi resistensi dan kekambuhan, sehingga pengobatan skizofrenia tetap merupakan tantangan yang signifikan, baik dalam bentuk terapi utama maupun pendukungnya.

Lima mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB)  dari Program Studi Pendidikan Dokter dan Program Studi Farmasi bersama dosen pembimbing berkolaborasi melakukan riset potensi ekstrak pegagan (Centella asiatica) dengan formulasi nanoemulsi sebagai terapi suplementasi skizofrenia. Mereka adalah Umar Jundullah Masykur, Dwi Sandhi Aulia Pramesti Putri, Nyoman Deva Pramana Giri, Naura Syifa Sakinata, dan Afifatur Rohmah, dengan bimbingan dari Wike Astrid Cahayani, S.Ked. M.Biomed.

Penelitian yang dilakukan oleh tim Umar berfokus pada identifikasi potensi antipsikotik dalam ekstrak pegagan (Centella asiatica) dengan penggunaan formulasi nanoemulsi untuk meningkatkan tingkat bioavailabilitasnya. Mereka juga melakukan uji in vivo menggunakan model hewan coba zebrafish untuk mengukur aktivitas lokomotor dan ekspresi Protein DARPP-32. Penelitian ini menjadi relevan mengingat tingginya tingkat prevalensi skizofrenia di Indonesia saat ini. Tim peneliti secara aktif membagikan perkembangan penelitian mereka melalui akun Instagram @pkmre.nanocella, mencakup persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian in vivo menggunakan zebrafish, dan analisis aktivitas lokomotor serta ekspresi protein DARPP-32.

Pengembangan pengetahuan baru adalah tujuan utama tim peneliti saat menjalankan penelitian mereka. Tim ini berharap bahwa hasil penelitian mereka akan menjadi landasan yang penting dalam meningkatkan pemahaman tentang skizofrenia dan berpotensi membuka jalan untuk pengembangan terapi baru yang lebih efektif dalam mengatasi gangguan ini. [pkmre/rs/sitirahma]