Prof. Dr.Ir. Sukardi, MS : Kenalkan Teknologi Medan Listrik Berpulsa

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Universitas Brawijaya Kembali menambah Panjang daftar professor dari berbagai bidang ilmu. Dalam prosesi pengukuhan pada Kamis (22/2/2024), UB melantik lima professor sekaligus dengan rincian empat dari Fakultas Teknologi Pertanian dan satu professor dari Fakultas Ilmu Administrasi.

Prof. Sukardi Saat Memberikan Orasi Ilmiahnya
Prof. Sukardi Saat Memberikan Orasi Ilmiahnya

Sumber kearifan lokal Indonesia sebagai bahan baku industri wewangian, kecantikan, citarasa dan obat sangat diminati dunia karena memiliki kualitas yang spesifik dibanding negara lain.

Bahan baku produk-produk di atas, masih diekspor dalam bentuk bahan baku atau bahan setengah jadi, sehingga nilai tambah belum kita peroleh. Oleh pihak importir diambil senyawa bioaktifnya dan dimurnikan, sehingga nilai tambah mencapai 300-500%.

Sebetulnya teknologi ekstraksi dan pemurnian bahan bioaktif ini sudah dapat dilakukan di dalam negeri, sehingga nilai tambah dapat ditingkatkan.

Saat ini ekstraksi sebagai salah satu teknik pengambilan senyawa bioaktif masih dilakukan secara konvensional, sehingga efisiensi maksimum hanya 70%.

Prof. Dr.Ir. Sukardi, MS memperkenalkan teknologi medan listrik berpulsa (Pulsed Electric Field = PEF) sebagai bagian dari “teknologi baru” pengambilan bahan bioaktif (ekstraksi). Teknologi PEF dapat meningkatkan rendemen sampai 100%, sehingga sangat menguntungkan bagi agroindustri.

Pemanfaatan teknologi modern PEF pada bahan agroindustri, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi proses ekstraksi senyawa bioaktif sebagai target dan memperoleh kualitas dan kuantitas yang maksimal atau setidaknya optimal Penerapan teknologi PEF daya listrik yang dibutuhkan di bawah 500 watt namun dihasilkan luaran tegangan mencapai 25 kV, frekuensi 25 kHz dengan waktu hanya 10-30 menit.

Teknologi PEF diterapkan sebelum ekstraksi senyawa bioaktif yang menjadi target, sehingga bagi agroindustri pemakaian daya sangat murah.

Hasil ekstrak yang diperoleh dan efisiensi proses meningkat, hal ini sebagai salah satu karakteristik teknologi PEF dan merupakan ciri teknologi ramah lingkungan Ekstraksi senyawa bioaktif sebagai sumber bahan pewangi, bahan kecantikan, bahan obat, bahan pewarna dan perisa, harus memperhatikan beberapa aspek mulai dari karakteristik bahan baku yang akan diproses, teknik proses yang dipilih atau parameter-parameter proses yang berpengaruh terhadap kinerja alat PEF.

Disamping itu perlu diperhatikan juga teknik pemurnian senyawa target yang diinginkan agar betul-betul mencerminkan tingkat efisiensi dan efektifitas penerapan teknologi PEF. Karakteristik bahan baku meliputi jenis bahan (daun, bunga, akar, batang, biji, rimpang/umbi/ubi, buah atau lainnya), kondisi bahan (basah, kering, simplisia, serbuk, utuh, irisan atau lainnya), asal bahan (geografi dan topografi, kondisi iklim dan lainnya), teknik budidaya (penerapan sapta usaha tani), teknik panen dan pasca panen serta masih banyak yang lain.

Karakteristik bahan baku ini akan menentukan dimana letak senyawa bioaktif yang menjadi target, berapa rendemen, apa saja komposisi kimia senyawa yang ada dan lain sebagainya. Kondisi proses atau parameter-parameter proses yang mempengaruhi kinerja sistem PEF dapat dilakukan pada pengaturan besar-kecilnya tegangan listrik, frekuensi, jarak katode-anode serta lamanya waktu paparan PEF.

Nilai tegangan dapat diatur pada kisaran antara 100-10.000 volt (0,1–10 kV), frekuensi diatur mulai 100-10.000 Hz (0,1–10 kHz), jarak katode-anode dari 5-30 Cm, dan waktu paparan PEF bisa diatur mulai 5 detik sampai 60 menit. Kondisi-kondisi penerapan PEF ini mencerminkan besar-kecilnya energi yang dibangkitkan oleh peralatan PEF atau yang diterima bahan sumber senyawa bioaktif.

Besaran energi yang diterima sel penyimpan senyawa target menentukan tingkat kerusakan dinding sel dan besarnya senyawa target yang diperoleh. Prof. Dr.Ir. Sukardi, MS. merupakan profesor dalam bidang ilmu Rekayasa Proses Pengolahan dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Ia menjadi profesor ke-15 di Fakultas Teknologi Pertanian, profesor aktif ke-215 dan ke-378 dari seluruh profesor di Universitas Brawijaya