Prof. Dr., Drs., Choirul Saleh., MSi : Kolaborasi Multisektoral Berbasis Nilai Gotong Royong dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Prof. Choirul Saleh Saat Berdiri di Altar Memberikan Orasi Ilmiahnya
Prof. Choirul Saleh Saat Berdiri di Altar Memberikan Orasi Ilmiahnya

Universitas Brawijaya Kembali menambah Panjang daftar professor dari berbagai bidang ilmu. Dalam prosesi pengukuhan pada Kamis (22/2/2024), UB melantik lima professor sekaligus dengan rincian empat dari Fakultas Teknologi Pertanian dan satu professor dari Fakultas Ilmu Administrasi.

Prof. Dr., Drs., Choirul Saleh., MSi dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) membawakan orasi ilmiahnya berjudul Multisectoral Collaboration Berbasis Nilai-Nilai Budaya Gotong Royong (MSC-NBGR) Dalam Pengelolaan Hutan Di Indonesia.

Sebagai kolaborasi multi sektoral, MSC-NBGR melibatkan organisasi pemerintah di berbagai level, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi nir-laba, media massa, dan lembaga donor baik lokal, nasional, maupun ditingkat internasional. Pendekatan MSC tersebut, diakomodasikan dan kombinasikan dengan beberapa karakteristik dan nilai-nilai budaya gotong royong, yang lebih dikenal sebagai pendekatan MSC-NBGR.

Dengan arti kata bahwa pendekatan ini merupakan bentuk metamorphosis atau pengejawantahan pendekatan multisectoral collaboration khas Indonesia.

“Ketika proses pengelolaan hutan adat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan MSC-NBGR yang mengedepankan nilai-nilai partisipasi, simpathy, emphaty, equity, equality and ethically transparansi, dan akuntabel, dalam konteks administrasi publik, maka diharapkan bisa menciptakan kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bagi masyarakat adat tepiaan hutan secara efisien, ekonomis dan efektif.

Sebaliknya, dalam kerangka ilmu administrasi publik, kuatnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan adat dapat meningkatkan legitimasi kebijakan, sementara dengan adanya simpati dan empati dapat memastikan bahwa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, benar-benar memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat lokal.

Betapa aspek-aspek kejujuran, friendliness, togetherness, transparansi, tanggungjawab, dan accountability, dalam konteks ilmu dan praktik administrasi publik, juga dapat menjamin bahwa proses pengelolaan hutan adat benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Pengelolaan hutan di Indonesia hingga saat ini masih terus dihadapkan pada beragam permasalahan rumit yang melibatkan sejumlah kepentingan, hak, dan sumber daya hutan. Permasalahan tersebut, berkaitan dengan aktivitas pengelolaan hutan yang bersinggungan dengan masyarakat adat yang sebagian besar masih berada dalam kemiskinan, kurang bermartabat, relatif tertinggal, dan belum sejahtera, karena mereka tidak diberi ruang untuk berpartisipasi dan berkolaborasi secara proporsional dalam proses pengelolaan hutan adat. Pemberdayaan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan belum dilakukan secara efektif dan sustainable oleh institusi yang berwenang karena masih bersifat ego sectoral.

Dalam perkembangan beberapa dekade belakangan ini, pendekatan Collaborative Governance (CG) telah menjadi kajian yang sangat penting dalam berbagai aktivitas ilmu administrasi publik. Pada salah satu ujung dari perkembangannya pendekatan CG tersebut telah melahirkan sebuah pendekatan MSC. Sedangkan untuk penerapannya di Indonesia, melalui peningkatan partisipasi, pemahaman empati, serta penerapan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, administrasi publik dalam pengelolaan hutan adat dapat menjadi instrumen yang efisien dan efektif dalam mewujudkan tujuan ini.

Prof. Dr., Drs., Choirul Saleh., MSi menawarkan pedekatan MSC-NBGR dalam pengelolaan hutan adat. Ia menjadi professor dalam bidang ilmu Administrasi Publik dan tercatat sebagai professor ke-13 di Fakultas Ilmu Administrasi, professor aktif ke-214 dan menjadi professor ke-377 di Universitas Brawijaya. (OKY/Humas UB)