Obati Sariawan dengan Ekstrak Kersen

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Stomatitis atau sariawan adalah lesi di mukosa mulut dengan gejala kambuhan berbentuk ovoid, berwarna kuning dan dikelilingi warna kemerahan. Penderita stomatitis tidak diketahui dengan pasti, namun berhubungan dengan faktor predisposisi seperti stres, hormon, alergi, infeksi bakteri dan virus.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Indonesia terjadi kenaikan prevalensi penyakit gigi dan mulut dari tahun 2013 sampai 2018 yaitu sebesar 25,9% menjadi 57,6%. Stomatitis menjadi salah satu penyakit mulut terbesar ketiga di Indonesia dengan prevalensi 8% dan mencapai 5%-60% dari populasi dunia.

Pengobatan sariawan selain menggunakan obat-obaan juga bisa menggunakan eksrak tanaman kersen. Kersen (Muntingia calabura L.) yang sangat melimpah di Indonesia dan kurang termanfaatkan, ternyata memiliki potensi untuk penyembuhan stomatitis. Daun kersen sangat kaya akan senyawa antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Hal ini dikarenakan ekstrak daun kersen mengandung senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Sementara itu, penggunaan ekstrak tanaman sudah dimanfaatkan hampir 85% dari jumlah penduduk dunia sebagai obat herbal. Tiga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (UB) berhasil meneliti secara literature review tentang ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) sebagai obat topikal herbal untuk penyembuhan stomatitis

Obat topikal kortikosteroid dari bahan kimia dapat menimbulkan atrofi di mukosa mulut, resistensi obat dan kandidiasis oral. Oleh sebab itu, pemanfaatan obat herbal dari daun kersen menjadi potensi dalam menyediakan kandungan antiinflamasi yang tidak kalah baiknya dengan obat kortikosteroid berbahan kimia. Bahkan, sumber data literatur menunjukkan bahwa penyembuhan stomatitis menggunakan daun kersen bisa lebih cepat.

Pengolahan daun kersen dimulai dari ekstraksi menggunakan pelarut etanol dengan metode maserasi dan dibuat menjadi sediaan topikal nano gel. Sediaan topikal gel dipilih karena mudah untuk diaplikasikan dalam rongga mulut dan muncul sensasi dingin di  area mukosa. Formulasi nano digunakan untuk membuat difusi jalan obat lebih cepat sehingga akan mempercepat proses penyembuhan stomatitis

“Persiapan terobosan secara literature review ini hanya dijalankan selama kurang lebih dua bulan. Namun, ke depannya kami akan melakukan riset lebih lanjut di laboratorium,” ungkap Irfa.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian ini berada di bawah bimbingan drg. Ariyati Retno Pratiwi, M.Kes. Tim yang diketuai oleh Irfa A’innurizza Wildah Irsya bersama kedua rekannya, Linda Risalatul Muyasaraoh dan Shofi Ramadhani berhasil mendapat medali emas pada kompetisi Indonesia International Invention Festival 2020 pada Sabtu (19/09) kemarin dan siap menuju PIMNAS ke-33 tahun ini. [VQ]