Mahasiswa UB Teliti Potensi Minyak Atsiri Untuk Terapi Ansomia COVID-19

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

SIARAN PERS
4 Agustus 2021
Nomor 80/VIII/2021

 

Empat orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) menemukan sebuah inovasi dengan memanfaatkan minyak atsiri sebagai terapi penyembuhan anosmia.

Ide ini dilatarbelakangi oleh suatu kasus COVID-19 di Indonesia denganosmia sebagai gejala yang paling umum.
Oleh karena itu, Quinnike Aisy Maskuri, Intan Salsabila Putri, Sania Isma Yanti, dan Indira Prakoso menemukan suatu metode yang dapat mengoptimalkan efek terapeutik dari minyak atsiri bunga sedap malam dan memperkuatnya dengan penambahan eucalyptol.

Penelitian mengenai penggunaan minyak atsiri untuk terapi anosmia sebenarnya sudah ada.

Akan tetapi sifat dari minyak atsiri yang volatil kurang stabil.

Oleh karena itu, Quinnike dan kawan-kawan mencoba memaksimalkan potensi minyak atsiri dari bunga sedap malam yang ditambahkan dengan eucalyptol dengan metode nanoenkapsulasi untuk terapi anosmia.

“Mekanisme kerjanya yaitu ketika minyak atsiri dihirup, sel reseptor olfaktori terstimulasi dan mendorong ke pusat emosi pada otak, atau sistem limbik,” kata Quinnike.

Sistem limbik ini terhubung pada bagian otak yang berkaitan dengan memori, pernapasan, dan sirkulasi darah termasuk kelenjar yang mengatur hormon dalam tubuh.

“Jadi, aroma minyak atsiri dapat langsung merangsang sistem tersebut,” katanya.

Adanya metode nanoenkapsulasi ini dapat menjadikan minyak atsiri lebih efektif dan efisien dari segi biaya maupun ketahanannya.

Hal tersebut dikarenakan metode nanoenkapsulasi dapat melindungi komponen aktif dari minyak atsiri, dan mengatur aromanya (slow release).

Nantinya hasil nanoenkapsulasi minyak atsiri bunga sedap malam dengan penambahan eucalyptol ini akan diaplikasikan dalam bentuk inhaler sehingga dapat mempermudah dalam penggunaannya.

Menurut penelitian yang ada cara efektif untuk mengatasi anosmia adalah dengan melakukan terapi olfaktori menggunakan minyak atsiri yaitu dengan menyiram aroma berulang ulang ulang setidaknya 2 kali sehari selama minimal 3 bulan.

Sehingga pengaplikasian pada inhaler tersebut sangatlah tepat.

Tim ini berharap metode nanoenkapsulasi minyak atsiri dari bunga sedap malam mampu menjadi solusi permasalahan anosmia di Indonesia. (QNK/Humas UB)

Contact Person:
Kotok Gurito, S.E.
Kepala Humas UB
+62815-5551-110

Website        :   prasetya.ub.ac.id
Instagram    :   @univ.brawijaya
Twitter          :   @UB_Official
Facebook     :   @Universitas.Brawijaya.Official