Mahasiswa UB Tawarkan Alternatif Atasi Stunting

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Stunting merupakan suatu masalah gizi akibat kekurangan gizi jangka panjang yang berdampak pada pertumbuhan linier. Salah satu zat gizi mikro yang erat kaitannya dengan stunting adalah zat besi (Fe). Hasil survei status gizi balita pada 2019, prevalensi stunting di Indonesia masih melebihi standar yang ditetapkan WHO. Sejalan dengan hal tersebut, UNICEF, (2020) menyebutkan bahwa pada tahun 2020 Indonesia menghadapi tingkat malnutrisi yang tinggi dimana lebih dari 7 juta anak balita mengalami stunting. Laporan SIGIZI terpadu per 20 Januari 2021, dari 34 provinsi menunjukkan bahwa dari 11.499.041 balita sebanyak 11,6% mengalami stunting.

Pada kehidupan sehari-hari, zat besi dapat diperoleh dari pangan pokok seperti beras. Namun fakta menyatakan bahwa kadar zat besi (Fe) pada padi di Indonesia relatif rendah sehingga masih belum bisa memenuhi kebutuhan gizi khususnya pada penderita stunting. Jika stunting terus terjadi dalam jangka waktu panjang, maka akan berdampak pada perlambatan laju pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Pada ajang PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), empat mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya (UB) dari Program Studi Agroekoteknologi yang diketuai oleh Steviani Yolanda dengan anggota Rahmi Yunita, I Gusti Ayu Cintiya Widya Lestari, dan Muhammad Dimas Priyastomo bersama dosen pembimbing Dr. Anna Satyana Karyawati, SP., MP. berkolaborasi melakukan riset guna meningkatkan kandungan zat besi (Fe) pada padi untuk menciptakan pangan fungsional dalam membantu mengatur keseimbangan gizi. Inovasi ini dilakukan melalui pemuliaan tanaman dengan metode biofortifikasi yang merupakan upaya intervensi (memasukan unsur nutrisi) untuk meningkatkan konsentrasi nutrisi yang tersedia bagi tanaman menggunakan seed priming method.

Tim peneliti secara aktif membagikan perkembangan penelitian mereka melalui akun Instagram @bioforyza, mencakup persiapan penelitian hingga pelaksanaan penelitian. Selain mampu meningkatkan kandungan zat besi (Fe) pada padi dalam menciptakan pangan fungsional guna mengatasi masalah stunting khususnya pada anak usia dini, melalui inovasi ini diharapkan mampu memberi sumbangan nyata dan berkelanjutan dengan biaya terjangkau serta menguntungkan dari segi agronomi dan ekonomi sehingga berpotensi dikembangkan secara luas. [pkmre/rs/sitirshma]