Mahasiswa Sosialisasi Keunggulan Beras Analog Untuk Diversifikasi Pangan

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Lima mahasiswa UB yaitu Wafa Nida Faida Azra, Surya Huda, Ristifiani Hanindia Putri, Wardatul Maulidah dan Alifatus Sholikhah yang tergabung dalam Tim Tanoto Student Research Award 2020 melakukan edukasi tentang manfaat beras analog bagi diversifikasi pangan. Sosialisasi dilakukan pada 12 keluarahan yang ada di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

Koordinator tim Wafa mengatakan perlu adanya alternatif sebagai pengganti pangan pokok selain padi, yaitu dengan beras analog. Beras analog yang masih belum banyak dikenal masyarakat perlu sehingga disosialisasikan.

Sosialisasi tersebut nantinya berisikan informasi-informasi tentang beras analog khususnya beras analog jagung mengingat Jawa timur merupakan provinsi penghasil jagung utama di Pulau Jawa.

Jagung merupakan tanaman pokok yang biasa dikonsumsi  masyarakat Indonesia, jagung pun dapat menjadi bahan dasar pembuatan beras analog. Adapun kandungan beras analog berbahan jagung memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Selain rendah gula serta mempunyai kandungan vit A sebesar 4500 kalori per 1000 gramnya. Kelebihan dari beras analog berbahan jagung belum banyak dikonsumsi dikalangan masyarakat baik masyarakat kalangan bawah, menengah ataupun kalangan atas.

“Sosialisasi ini diharapkan dapat mengenalkan beras analog khususnya beras analog berbahan jagung dan dapat mengedukasi tentang beras analog kepada masyarakat sehingga tertarik untuk mengonsumsi beras analog jagung,” ujar dosen pembimbing kelima mahasiswa tersebut, Wendra Gandhatyasri Rohmah.

Tim

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber pangan pokok. Padi, singkong dan ubi adalah beberapa jenis tanaman pokok yang memiliki karbohidrat yang tinggi. Konsumsi beras penduduk Indonesia sebagai sumber pangan pokok mencapai 90%.

Angka konsumsi beras pada tahun 2011 mencapai 139,5 kg per kapita per tahun, angka tersebut diprediksi akan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.

Padahal, tingginya konsumsi beras tidak berbanding lurus dengan tingginya produksi beras. Kebutuhan beras domestik yang cukup besar, belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi dalam negeri mengakibatkan Negara Indonesia harus mengimpor beras yang dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat.
Beras analog dapat menjadi alternatif untuk membantu menjaga ketahanan pangan, selain kandungan gizi pada beras analog yang lebih baik dibandingkan dengan beras padi juga dapat membantu mewujudkan program diversifikasi pangan. [WVA/Humas UB]