Mahasiswa UB Gagas Rumah Masa Depan Atasi Solusi Kesenjangan Pendidikan

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Permasalahan pendidikan di Indonesia menjadi topik yang kerap kali muncul dalam lingkungan masyarakat, terlebih lagi adanya kesenjangan pendidikan serta bencana banjir menjadikan terhentinya proses pembelajaran.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ketiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menemukan gagasan melalui sebuah teknologi bernama Future Education View atau yang dikenal dengan FEV.

FEV (Future Education View) adalah rumah pendidikan masa depan yang menggabungkan teknologi dengan sistem pembelajaran dan sistem pencegahan banjir.

FEV menerapkan konsep pembelajaran melalui chip yang dimasukkan ke sebuah meja yang terhubung dengan layar hologram (teknologi fotografi yang merekam cahaya yang tersebar dari suatu objek dan kemudian menyajikannya dalam bentuk 3 dimensi yang dapat kita lihat sampai 360 derajat dan dapat bergerak dengan animasi dan suara, agar dapat menyampaikan informasi), sehingga akan menampilkan sebuah materi pembelajaran tanpa harus menulis  di papan tulis atau menggunakan layar LCD.

FEV  didesain memiliki ruangan yang  menyenangkan dengan penggunaan layar LED di setiap bagian rumah yang berfungsi sebagai gambaran tema pembelajaran yang sedang dilakukan.

Tampilan LED dapat berubah-ubah tema sesuai dengan pembelajaran yang disajikan, agar saat melakukan aktivitas pembelajaran, siswa hanya perlu duduk dan menikmati saja.

Bagian dalam rumah pendidikan ini juga menyediakan banyak buku atau perpustakaan agar setiap siswa yang ingin membaca buku menjadi lebih mudah dan praktis. Penggunaan chip dan layar hologram pun disajikan agar proses pembelajaran tidak membosankan serta dapat diulang kembali apabila ada yang kurang memahami pembelajaran.

Rumah FEV ini juga dilengkapi dengan teknologi sensor yang membuat rumah ini mengeluarkan tonggak pencegah banjir di bagian bawahnya. Sensor berada anak tangga teratas yang merespon ketika ada genangan air sudah mencapai ketinggian 60 cm.

Hal ini menyebabkan tangga akan naik dan digantikan oleh tonggak yang berada di bawah rumah. Selain itu ketika banjir dirasa sudah naik hingga 3 meter maka tonggak akan diaktifkan menjadi lebih tinggi sehingga rumah ini menjadi setinggi 7 meter.

Ketiga mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya, Aura Bunga Tauhid, Sri Nur Cahayu, dan Egi Nur Lathifah berharap dengan teknologi tersebut bisa menjaga ketertarikan anak-anak akan pendidikan melalui pembelajaran berbasis teknologi yang menyenangkan, bervariasi dan tentu tidak membosankan.