Lima Mahasiswa UB Ciptakan Rumah Susun Cerdas Ramah Lingkungan

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Fenomena meningkatnya penduduk yang terjadi di Indonesia seperti dua sisi mata uang. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan selama dua tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah penduduk. Di tahun 2020 peningkatan jumlah penduduk sebesar 1,5% atau sebanyak 270 juta jiwa sementara di tahun 2021 meningkat menjadi 272 juta jiwa. Sebuah peluang jika dijadikan sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia. Namun menjadi ancaman pada ketersediaan lahan dan pangan, kebutuhan air bersih, dan pencemaran lingkungan.

Salah satu pencemaran lingkungan disebabkan oleh adanya sampah rumah tangga.  Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional tahun 2021 menginformasikan jumlah seluruh sampah rumah tangga dan sejenisnya mencapai lebih dari 41 juta ton yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Terdapat indikasi peningkatan konsumsi masyarakat seiring dengan ledakan jumlah penduduk yang mengancam Indonesia. Di sisi lain, semakin tinggi kebutuhan lahan hunian yang memadai berdampak pada tingginya alih fungsi lahan termasuk lahan pertanian.

Berdasarkan latar belakang diatas, lima mahasiswa lintas fakultas UB menginisiasi sebuah konsep Eco-Smart Building untuk memecahkan permasalahan peningkatan jumlah penduduk di dunia.

Konsep Eco-Smart Building merupakan konsep hunian dalam bentuk rumah susun, di dalamnya terdapat kesatuan sistem ramah lingkungan yang akan mengolah limbah rumah tangga seperti sampah dan air bekas cucian yang dibantu dengan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Konsep ini dipadukan dengan underground farming atau pertanian bawah tanah sehingga penghuninya dapat melakukan aktivitas usahatani tanpa bergantung pada musim ataupun lahan.

Ketua tim, Tarisa mengatakan dalam Eco-Smart Building terdapat sebuah kesatuan sistem yang memanfaatkan limbah air dan sampah rumah tangga menjadi energi terbarukan. Energi ini nantinya akan disalurkan ke dalam underground farming.

“Gagasan ini dapat dikatakan smart  karena pemrograman sistem di dalamnya telah memanfaatkan AI sehingga terdapat suatu modernitas yang berkelanjutan, baik pada kegiatan mengolah sampah maupun kegiatan bertani,” kata Tarisa.

Mahasiswa Agribisnis tersebut menjelaskan, dengan dibangunnya Eco-Smart Building sampah yang dihasilkan dalam rumah tangga dipilah menjadi organik dan anorganik. Sampah organik akan ditampung dalam banker sampah hingga terjadi proses fermentasi sampah yang akan menghasilkan air lindi dan gas metan. Air lindi akan diolah lebih lanjut menjadi Pupuk Organik Cair (POC), sementara gas metan akan diubah menjadi energi listrik.

Inovasi Eco-Smart Building menjadi sebuah terobosan rumah susun dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan keterbatasan lahan pertanian berbasis artificial intelligence. Inovasi ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat menengah ke bawah mendapatkan ruang hidup yang layak. Terobosan ini mengedepankan pengelolaan sampah dan air limbah rumah tangga melalui konsep renewable energy dengan sistem pertanian bawah tanah.

“Jika Eco-Smart Building terealisasi, maka beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs) dapat terwujud. Diantaranya poin nomor tujuh yaitu energi bersih dan terjangkau, nomor sebelas tentang kota dan permukiman berkelanjutan, kemudian selaras dengan nomor dua belas untuk memastikan pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab,” kata Tarisa.

Eco-Smart Building yang dibuat oleh Tarisa (Agribisnis), Rifanjani Khumairoh Vita Dewi (Agribisnis), Uswatun Khasanah (Agribisnis), Furqan Maulana Pranata (Teknologi Informasi), dan Kesid Dewa Wicaksana (Teknik Informatika) masuk ke dalam PKM VGK dibawah bimbingan Vi’in Ayu Pertiwi, SP., MP mereka akan bersaing untuk maju pada ajang PIMNAS ke-35. (TARRISA/Humas UB)