LignoFlava, Alternatif Vanila Pod dari Limbah Pertanian

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

LignoFlavaVanilin merupakan senyawa fenolik yang dihasilkan dari tumbuhan vanila. Harga vanila berbentuk bubuk di pasaran masih sangat tinggi, mengingat ekstrak ini sangat banyak digunakan untuk kebutuhan kuliner dan kosmetik. Sebagai gantinya, empat orang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya menemukan bahan alternatif yang dibuat dari limbah pertanian, seperti serabut kelapa, jerami dan kulit kakao.

Adalah Himawan Auladana, Rizki Septian C.K, Rulyawan Ediwasito, dan Elyda Amelia Noor dengan bimbingan Irnia Nurika, STP., MP, PhD yang menggagas bahan alternatif pengganti vanila sintetis. Keempat mahasiswa jurusan Teknologi Industri Pertanian ini menemukan LignoFlava, vanillin alami. “Ligno Flava merupakan alternatif vanila pod. Vanila sendiri merupakan zat tambahan pangan yang banyak digunakan. Kebutuhannya juga tinggi dan tumbuhannya sendiri harganya mahal. Sehingga yang ada di pasaran adalah vanila sintetis”, ujar Ruli.

LignoFlava dihasilkan melalui senyawa lignin yang didapat setelah memfermentasikan jamur tertentu dengan komposisi 20 persen dari berat bahan. “Jamur ini memecah kandungan lignocelulosa pada sabut kelapa, cangkang coklat dan jerami. Sejauh ini, senyawa lignin paling banyak didapat pada sabut kelapa, sebanyak 30 persen. Lignin yang dipecah ini kemudian dimodifikasi menjadi vanilin”, jelasnya. Pemilihan sabut kelapa sendiri sebagai bahan baku karena bahan ini banyak terdapat di Indonesia sebagai negara penghasil kelapa terbesar.

LignoFlava dapat disebut sebagai produk vaniin yang ramah lingkungan. Selain itu juga bahan ini ramah lingkungan, hemat energi dan tidak berdampak pada lingkungan. “Kami percaya LignoFlava sebagai vanilin alami dapat menjadi salah satu bahan tambahan pangan terbaru yang dapat meningkatkan rasa namun tidak mengancam kesehatan.

Penelitian ini membawa UB menjadi salah satu peserta kompetisi Thought For Food 2017 yang akan diselengggarakan di Amsterdam, Belanda. “Dalam kompetisi ini, tim LignoFlava menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia dan bersaing melawan 9 delegasi lain dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Malaysia, Perancis, Inggris, Columbia, Uganda dan India”, ujar Rizki.

Thought for Food 2017 merupakan kompetisi tentang pangan bertaraf internasional. Kegiatan ini akan diselenggarakan di Amsterdam pada bulan Mei 2017. “Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah How Do We Feed 9+ Billion People by 2050? Tema ini dimaksudkan bagaimana kita memenuhi kebutuhan pangan pada tahun 2050? Karena ketika tahun 2050, jumlah penduduk manusia akan mencapai angka 9 milyar jiwa”, pungkas Ruli. [vicky]