Halau Baby Blues dengan Bye-Blues

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

“Selama cuti tidak menerima gaji sepeserpun karena tidak bekerja. Namun alhamdulillahnya karena saya full ditemani oleh mertua, suami bisa fokus kerja sehingga untuk keuangan rumah tangga sendiri tidak ada masalah berarti” – Responden W3

Kutipan di atas merupakan hasil data riset yang dilakukan oleh lima mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya yang meneliti tentang Baby Blues Syndrome. Riset ini dilakukan oleh M. Nashir Siraj (FISIP), Sayyidati Nurmuthi’ah (FP), Rahmah Nur Diana (FILKOM), M. Nasim Mubarok (FPIK), dan Haidar Azzamuddin (FMIPA) melakukan riset untuk mengulik faktor penyebab serta pengaruh ketetapan cuti kehamilan terhadap tingginya angka penderita baby blues syndrome yang terjadi di Indonesia.

Melalui riset ini, lahirlah Bye Blues, sebuah gerakan penggalangan dana yang akan dialokasikan untuk menyewakan pendamping atau baby sitter untuk ibu pasca melahirkan yang tidak mendapatkan pendampingan dan tidak memiliki biaya untuk menyewa pendamping. Dengan gerakan Bye-Blues ini, kebutuhan akan pendampingan pada ibu masa nifas di Indonesia pun dapat terpenuhi dan terlaksana dengan optimal. Sebagai bagian dari salah satu langkah membesarkan gerakan sosial ini, dirancanglah website untuk bye-blues.com.

Pengambilan data pada riset ini dilakukan mulai tanggal 4 Juni 2021 hingga 12 Agustus 2021 dengan menyebar kuisioner melalui social media.  Responden pada penelitian ini adalah 100 ibu penderita baby blues syndrome yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berdasarkan survey, didapatkan hasil bahwa responden penderita baby blues tanpa pendampingan selama masa nifas, merasakan depresi yang jauh sangat berat, terlebih bagi ibu yang tidak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal tersebut disebabkan adanya ketidakadilan cuti melahirkan yang didapatkan oleh responden.

Sedangkan responden dengan pendampingan selama masa nifas merasakan depresi yang jauh lebih ringan terlepas dari latar belakang pekerjaannya. Dari sini kita bisa mengetahui, ketidakadilan cuti melahirkan yang didapatkan oleh responden, mampu teratasi dengan pendampingan yang tepat, yang diberikan selama masa nifasnya. Hal ini sebagaimana pernyataan responden berikut ini.

“Oleh karena hal itu, kami sebagai generasi muda Indonesia berkeinginan untuk turut berperan mengatasi masalah tersebut, dengan membentuk sebuah gerakan sosial yang kami beri nama Bye-Blues. Bye-Blues merupakan suatu asosiasi sosial sebagai wadah kepedulian masyarakat akan problematika baby blues syndrome di Indonesia. Asosiasi ini bertujuan untuk memberikan pelayanan berupa pendamping atau baby sitter yang telah terjamin kualitas dan kredibilitasnya untuk mengasuh dan memberikan pendampingan kepada ibu pasca melahirkan yang tidak mendapatkan pendampingan dari orangtua atau suaminya selama 40 hari masa nifas,” kata Nashir, salah satu perwakilan tim.

Nashir menambahkan, website ini dilengkapi dengan berbagai fitur melakukan pengajuan pendampingan bagi ibu yang tidak memiliki pendamping selama masa nifas mengajukan untuk mendapatkan pendamping selama 40 hari masa nifas. Kemudian terdapat pula fitur pengajuan pekerja atau sukarelawan, diperuntukan bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari tim pekerja ataupun sukarelawan dari Bye-Blues. Selain itu, gerakan Bye-Blues ini juga mengadakan webinar nasional rutin yang diadakan selama sebulan sekali untuk para ibu di Indonesia. Webinar ini membahas seputar masa-masa nifas, perawatan bayi, dan dirinya. Webinar ini diisi oleh pemateri dari kalangan ahli obstetri dan ginekologi, serta psikolog-psikolog di Indonesia.

Bye-Blues juga membuat grup khusus via Whatsapp Messenger yang diisi oleh sukarelawan dokter dan psikolog, beserta ibu-ibu baik yang baru pertama kali melahirkan ataupun yang sudah lebih berpengalaman dalam urusan persalinan.  Grup chat ini dibuat dengan membagi anggotanya berdasarkan domisili kota dari masing-masing anggota. Selain menjadi salah satu media untuk membagikan link webinar, melalui grup ini para ibu juga bisa saling sharing terkait keluh kesah yang dialami selama melahirkan, saling berbagi tips and trick, dan nasihat, dan tetap dengan dalam pengawasan ahlinya. (VQ)