Gerakkan Program Eco-edupreneurship, Upaya Tingkatkan Jiwa Kewirausahaan Anak Pemulung

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PM) menghadirkan inovasi baru sebagai upaya meningkatkan jiwa kewirausahaan anak-anak pemulung di daerah sukun dengan mengolah sampah menjadi suatu karya. Tim dengan dosen pendamping Dr. Lilik Wahyuni S.pd., M.Pd ini menawarkan program eco-edupreneurship sebagai program pengolahan sampah organik maupun anorganik menjadi suatu karya seperti hidroponik sederhana, ecoenzym, gantungan kunci, dan meja yang memiliki nilai jual tingi dengan mengaplikasikan metode pengajaran berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Tim PKM PM Eco-edupreneurship diketuai oleh Tiara Wahyuni Rahmawati Hipi dengan beranggotakan Meilince Veganita, Putri Alifia Shifa Rizqy Kamila, Agista Nanda Prasetya, dan Ida Bagus Ketut Permana. Kegiatan yang dilakukan dalam program ini berlangsung selama 3 bulan yakni mulai pada bulan Juli 2023 hingga September 2023.

Lokasi pengabdian masyarakat ini berada di Kelurahan Mulyorejo RW 5 tepatnya berada berdekatan dengan TPA Supit Urang khususnya di Kampung Pemulung, Kota Malang. Kondisi sampah yang telah menggunung di daerah ini mengharuskan kita untuk mulai mengatasi dan mengurangi sampah terutama sampah plastik. Mayoritas  penduduk di daerah ini bekerja sebagai pemulung, dan tak jarang anak-anak mereka turut serta membantu orang tua mereka untuk memulung.

Pada program ini anak-anak pemulung menjadi pelaku utama dalam perubahan yang tidak hanya memajukan perekonomian mereka, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan di sekitar mereka. Program ini menjadi langkah nyata untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan anak-anak pemulung. Dengan metode pengajaran berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mengajarkan anak-anak pemulung mengubah sampah organik dan anorganik menjadi budidaya hidroponik sederhana, ecoenzym, gantungan kunci, dan juga membuat meja dari sampah plastik. Hasil dari kreativitas mereka ini kemudian akan dijual secara langsung maupun melalui media instagram sebagai wujud dari penanaman jiwa kewirausahaan dari anak-anak pemulung.

Program ecoedupreneurs ini dibuat sebagai upaya menciptakan wirausahawan muda yang peduli akan lingkungan sekitar. Melalui pemanfaatan sampah menjadi karya seperti hidroponik, ecoenzym, gantungan kunci, dan juga meja ini dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dapat merusak lingkungan. Selain itu, anak-anak pemulung juga dapat mengembangkan rasa tanggung jawab dan potensi kreativitas yang mereka miliki sebagai pembentukan karakter generasi unggul.

“Anak-anak pemulung tidak hanya belajar tentang bisnis, tetapi juga menjadi pelopor dalam upaya pelestarian lingkungan. Kami percaya bahwa dengan metode berbasis pembelajaran, kami dapat menginspirasi lebih banyak anak-anak pemulung untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan potensi ekonomi mereka” ucap Meilince, salah satu anggota penggerak dari ¬†program ini.

Program penumbuhan jiwa ecoedupreneurs berbasis 3R ini adalah investasi dalam masa depan yang berkelanjutan. Mereka adalah pemimpin masa depan yang akan mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan.”Saya berharap bukan hanya anak pemulung saja yang menjadi target sasaran dalam menjaga lingkungan, karena bumi tempat tinggal kita bersama maka harus dijaga bersama juga, sehingga banyak orang-orang yang peduli terhadap lingkungan dan menerapkan 3R” ucap Bu Arin selaku ketua RW 5 Mulyorejo, Kecamatan Sukun.

Sebagai salah satu isu sentral, sampah memang menjadi masalah yang perlu ditangani dengan segera. Melalui program ecoedupreneurship ini diharapkan permasalahan sampah bisa teratasi sedikit demi sedikit. Program Ini adalah contoh nyata bagaimana pendidikan berbasis 3R dapat membentuk anak-anak menjadi agen perubahan positif, mengubah limbah menjadi peluang, dan membangun ekosistem berkelanjutan di komunitas yang mungkin terabaikan.

“Dengan harapan, cerita inspiratif ini kami berharap menjadi contoh bagi banyak komunitas lain yang ingin menciptakan perubahan yang positif dalam menghadapi tantangan lingkungan saat ini” Ucap Tiara sebagai ketua penggerak dari program Eco-edupreneurship. [pkmpm/rs/oki]