FK Berikan Sosialisasi dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Remaja

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Sampai saat ini kasus kematian akibat  henti jantung masih cukup tinggi, hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan   tentang bagaimana mengenali henti jantung dan bagaimana memberikan  bantuan hidup dasar yang harus diberikan oleh masyarakat apabila ditemukan ada seseorang yang mengalami henti jantung. Penyebab henti jantung yang paling sering adalah sebagai akibat  dari sindroma koroner akut atau yang lebih dikenal sebagai serangan jantung.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang kegawatdaruratan dibidang Kardiovaskular, serta memberikan edukasi bagi anak remaja usia Sekolah Menengah Atas, Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah FKUB/RSSA pada Senin (16/10/23) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengmas) dengan tema  “Sosialisasi dan Pelatihan bantuan Hidup Dasar Pada Remaja Kelompok   Usia Sekolah Menengah Atas di SMA N 4 Malang”.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 50 an siswa dan siswi SMA N 4 Malang, dr. Cholid Tri Tjahjono, M. Kes., Sp.JP (K) yang dibantu oleh Tim dari Residen/PPDS Kardiologi dan dokter muda  FKUB/RS Saiful Anwar menyampaikan materi tentang Bantuan Hidup Dasar dan memberikan pelatihan tentang tata cara resusitasi jantung paru  terhadap pasien henti jantung.

Dalam wawancaranya dengan Humas FKUB, dr. Cholid  mengatakan, kenapa kami memberikan  pelatihan ini terhadap remaja? karena kami ingin memberikan pengenalan dan edukasi kepada mereka tentang  bagaimana kita mengenali orang yang menderita/mengalami henti jantung, kemudian memberikan pertolongan awal, sehingga mereka (penderita) mendapatkan pertolongan di awal karena kalau tidakdi berikan pertolongan di awal umumnya akan berakibat fatal dan mengakibatkan kematian baik di tempat maupun dalam perjalanan ke Rumah Sakit.

Seperti kita ketahui bahwa serangan jantung dengan komplikasi berupa henti jantung menduduki tingkat kematian yang  pertama di masyarakat dan hampir 50 % penderita yang mengalami serangan jantung meninggal sebelum sampai di RS karena tidak mendapatkan pertolongan awal yang memadai. Tuturnya.

Ditambahkan oleh dr Cholid bahwa, kasus henti jantung yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner  biasanya kami temukan di usia 35 tahun ke atas, sedangkan pada usia lebih muda lazimnya henti jantung dikarenakan terdapat kelainan sistem listrik jantung atau kelainan bawaan lainnya. Hal ini bisa ditemukan pada atlet olah raga yang tiba tiba tidak sadarkan diri atau kejang di lapangan, misalnya pada atlet sepak bola yang usianya di bawah 35 tahun. . Tegasnya.

Lebih lanjut beliau menyampaikan bagaimana  kita mendeteksi / mengenali adanya henti jantung di sekitar kita, Dosen yang pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Profesi Dokter FKUB ini menyampaikan ciri ciri sebagai berikut : 1) .adanya pasien tidak sadarkan diri, 2). Mual dan Muntah, 3). pasien yang tiba tiba kejang.

Menanggapi kegiatan ini Wakasek Kesiswaan SMN 4 Malang, Riris Andriani, M.Pd mengaku sangat senang dan mengapresiasi adanya kegiatan pengmas yang dilakukan di sekolah kami, dengan banyaknya jumlah siswa atau sebanyak 930 an siswa/siswi kami. Hal ini cukup membuat kami cukup tenang apabila ada atau ditemukan kejadian kasus henti jantung mendadak di sekolah kami mengingat koordinator yang kami miliki di UKS hanya 1 orang saja.

Namun dengan adanya pelatihan yang melibatkan sebanyak 50 an  anak didik kami  yang terdiri dari anggota KKR, PMR, Kader kesehatan dan Duta Anti Narkoba nantinya ilmu ini dapat semakin berkembang dan dapat ditularkan ke siswa yang lainnya. Dan SMA 4 Malang ini dikarenakan posisi nya yang strategis dan sering ada kecelakaan, maka UKS di sekolah kami menjadi salah satu tempat untuk penanganan awal bagi korban kecelakaan, untuk itu kami berharap adanya dukungan atau tambahan wawasan bagi sekolah kami utamanya dalam penanganan awal kecelakaan.

Lebih lanjut, Guru Kimia SMA N 4 ini juga berharap kerjasama ini dapat terus dilakukan baik dalam hal bantuan hidup dasar jantung maupun kegawat daruratan lainnya, namun saat ini yang kami lihat dan paling mendesak adalah adanya pendampingan tentang kesehatan mental bagi anak didik kami, karena dari adanya proses peralihan sistem daring menjadi luring seperti saat ini , banyak kami temukan anak didik kami tiba-tiba mengeluh mual, muntah dan harus beristirahat di dalam UKS, sehingga kami khawatir dengan psikologis mereka yang mungkin sedikit sulit beradaptasi dengan kegiatan di sekolah, ujarnya.  (An4nk – Humas FKUB/Humas UB)