FILKOM kenalkan Platform Pembelajaran LetsCode Untuk Siswa SMK

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

FILKOM UB melalui pendanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pada tanggal 21 hingga 23 Juni 2023 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 (SMKN 3) Malang. Tim dengan ketua Ir. Tri Afirianto, S.T., M.T. ini beranggotakan Dr. Eng. Fitra Abdurrachman Bachtiar, S.T., M.Eng,  Ir. Satrio Agung Wicaksono, S.Kom., M.Kom., dan Retno Indah Rokhmawati, S.Pd., M.Pd. Pada kegiatan pengabdian masyarakat kali ini, tim memfasilitasi SMKN 3 Malang untuk mempelajari pemrograman dasar berbasis masalah dengan pendekatan model belajar pair programming dengan aplikasi bantu LetsCode.

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran Pemrograman Dasar adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) berupa model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik memperoleh pengetahuan penting melalui keterampilan dalam memecahkan masalah dan menentukan model pembelajarannya sendiri. Dalam penerapan PBM, siswa akan diberikan suatu permasalahan yang harus diselesaikan dengan menerapkan kemampuan berpikir secara logika dan mengimplementasikannya dengan menuliskan kode program.

Afi, panggilan dari Tri Afirianto, menyampaikan bahwa siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 3 rata-rata baru mengenal pemrograman. Pada PBM mata pelajaran Pemrograman Dasar yang mempelajari logika dan pembuatan kode program, umumnya siswa TKJ yang baru mengenal pemrograman akan mengalami kendala ketika mempelajarinya.

Lebih lanjut, Afi menyampaikan bahwa kegiatan ini juga ditujukan untuk memperkenalkan model belajar pemrograman yang biasanya dilaksanakan secara individu juga terdapat model belajar pair programming. Dalam membuat program, seorang programmer dapat membuatnya baik secara individu maupun bersama-sama. Pembuatan kode program secara bersama-sama sering disebut sebagai pair programming yang umumnya dilakukan oleh dua programmer yaitu salah satu menuliskan kode program sedangkan yang lain memperhatikan dan memberikan masukan terhadap kode program yang sedang atau telah dibuat untuk mengurangi kesalahan penulisan kode program.

“Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan siswa, guru, serta pihak sekolah yang berwenang dapat mengimplementasikan model pair programming di kelas serta sebagai salah satu solusi untuk menjembatani bagi antara siswa yang sudah memahami dengan yang belum memahami materi pemrograman dasar, ” kata Afi (rr/ta/Humas UB)