Fakultas Pertanian Angkat Tema Gender and Agricultural Development di Konferensi Internasional

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menyelenggarakan Internasional Conference “The 2nd International Conference On Agriculture And Food Sustainability” yang dilaksanakan pada hari Senin (17/10/2022) di Ballroom, Hotel Grand Mercure. Acara ini dihadiri oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kependudukan, Dra. Rostu Novi Widiani, MM dan Dekan Fakultas Pertanian Dr. Ir. Damanhuri, MS. Serta jajaran pimpinan Fakultas Pertanian lainnya. Mengambil tema “Gender and Agricultural Development” yang memiliki makna untuk mengetahui bagaimana setelah adanya pandemi Covid-19 ini pada perkembangan pertanian apakah sustainable atau tidak terhadap lingkungan, apakah sudah memenuhi aturan yang benar, dan bagaimana pengaruh aktor direct maupun indirect.

Dalam video sambutannya Prof. Widodo SSi, MSi, PhD Med Sec, selaku Rektor UB mengungkapkan apresiasinya kepada peserta dan panelis yang telah hadir secara luring dan daring.  “Saya ingin menyambut seluruh partisipan yang telah berkesempatan untuk menyelenggarakan kegiatan konferensi internasional di UB. Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Kami memiliki tujuan meningkatkan reputasi internasional universitas melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan membantu komunitas global khususnya mendorong pertukaran timbal balik antara ilmuwan dan pakar untuk berbagi penelitian dan pandangan dengan topik yang menarik termasuk gender dan pemngembangan di bidang pertanian,” ungkapnya.

Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si selaku ketua pelaksana menambahkan, empat keynote speaker dihadirkan dalam dua sesi pemaparan yaitu mengenai : Gender and Rural Development Gender, Agriculture Gender and Development, Biodiversity, serta Environment Policy and Socioeconomics Agriculture. Kegiatan ini dihadiri 114 peserta umum ditambah 52 peserta yang lolos IOP Scopus. Konferensi ini bertujuan untuk menyebarluaskan penelitian yang bisa ditentukan sebagai kebijakan pemerintah sehingga nantinya dapat menjadi acuan hingga dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas. “Saya berharap pada konferensi ini  kita dapat berbagi penelitian, keterampilan, dan pengalaman lapangan tentang dampak interaksi manusia dengan alam untuk meningkatkan kehidupan manusia sekaligus menyebabkan kerusakan yang minimal. Di masa pasca-COVID ini, kita harus mengubah kebiasaan kita dalam memanfaatkan kompromi alam dan menyelaraskan dengan dampaknya terhadap lingkungan. Ketimpangan akses manusia terhadap sumber daya alam dan lahan pertanian juga menjadi perhatian di era globalisasi saat ini,” tambahnya.

Keseimbangan antara kebutuhan hidup manusia (laki-laki dan perempuan) dan akses terhadap pengelolaan sumberdaya lahan harus memperhatikan konservasi, pemanfaatan, dan pelestarian, serta kelestarian hasilnya. Tema kali ini memiliki makna untuk bagaimana peran gender dalam pembangunan pertanian, selama ini peranan wanita terutama di farming, seringkali tidak diimbangi dengan peran lainnya seperti teknologi maupun capital. Maka diperlukan adanya forum internasional yang dapat mengakomodir pendapat keilmuan hingga bertukar pengalaman dari berbagai negara, terlebih memberikan ruang bagi akademisi untuk sharing mengenai riset dan praktek kebijakan lembaga intitusi pemerintahan. [nice]