Early Warning System Doktor Mengabdi UB, untuk Deteksi Banjir dan Angin Kencang

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Kota Batu dikenal dengan wisata alam dan hawa yang sejuk. Dikelilingi oleh beberapa gunung membuat wilayah ini sebagai salah satu sentra hortikultura di Jawa Timur. Namun, Kota Batu juga berpotensi terjadi bencana alam, sehingga dibutuhkan mitigasi bencana untuk menanggulangi  jatuhnya korban.

Sadar akan potensi ini, beberapa dosen lintas keilmuan dari Universitas Brawijaya (UB) membuat sistem peringatan dini bagi masyarakat di Dusun Prambatan, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sebagai daerah lintasan Sungai Brantas, dusun ini memiliki curah hujan yang cenderung tinggi dan memengaruhi debit air sungai. Sistem ini akan memudahkan pengurus daerah untuk melakukan pemeriksaan ketinggian air.

 

 

 

 

 

Adalah tim Doktor Mengabdi (DM) dengan ketua Dr. Muhammad Aziz Muslim, S.T, M.T dan anggota Achmad Basuki, ST., MMG., Ph.D, Raden Arief Setyawan, S.T, M.T , Dr. Fakhriy P. Hario., S.T,M.T, Dr. Eng. Angger A. Razak, S.T, M.T, Mulyadi S.T dan Ratno Wahyu W, S.T dari Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komputer, yang menawarkan solusi monitoring berbasis Internet of Things (IoT), dalam bentuk pemasangan sensor di Bendungan Coban Talun untuk mengukur ketinggian debit air.

Menurut Aziz, ide ini didapat setelah berdiskusi dengan warga Dusun Prambatan sekaligus relawan Sapu Bersih Nyemplung Kali. “seringkali peningkatan debit air tidak disadari oleh anggota masyarakat yang tinggal disekitar aliran sungai Brantas. Padahal banyak aktivitas warga yang bergantung pada sungai ini”, jelasnya.

Penempatan sensor di Bendungan akan memudahkan penjaga untuk mengukur ketinggian air. Informasi ini juga akan memudahkan masyarakat jika terjadi peningkatan ketinggian air secara mendadak. Hasil pantauan akan dikirimkan petugas ke perangkat desa melalui berbagai alat komunikasi.

Selain sensor pengukur ketinggin air, tim ini juga memasang satu set stasiun pemantauan cuaca di Desa Sumber Brantas. Berkaca dari bencana angin ribut si tahun 2019 lalu, wilayah ini rentan mengalami kejadian yang sama setiap tahun. Atas dasar itu pula, Aziz mempertimbangkan pemasangan stasiun cuaca bertenaga sel surya.

“Pemasangan sensor, diharap dapat memberikan informasi cuaca secara real time kepada masyarakat sekitar. Sensor ini mengukur beberapa parameter, seperti kecepatan angin, arah angin, suhu udara, kelembaban dan tekanan udara serta curah hujan yang dapat di akses melalui website”, imbuhnya.

Alat ini di desain dengan konsep IoT dengan menggunakan raspberry pi sebagai otak sistem ini. Untuk sensor kecepatan angin menggunakan anemometer yang berputar sesuai dengan kecepatan angin. Jumlah putaran ini yang dihitung menggunakan sensor magnetik sehingga diperoleh jumlah putaran per detik. Sedangkan untuk sensor arah angin menggunakan alat yang disebut wind vane. Arah mata angin tersebut akan mengaktifkan 8 saklar magnetik untuk menunjukkan 8 arah mata angin.

Untuk mengukur curah hujan digunakan konsep penampung jungkat jungkit. Aliran air hujan akan diarahkan salah satu penampung pada posisi atas, saat penampung penuh maka penampung ini akan turun dan air akan mengisi penampung kedua. Curah hujan dihitung berdasarkan berapa kali penampung ini bergantian dalam satu waktu tertentu.

Sedangkan untuk suhu, kelembaban serta tekanan udara menggunakan sensor elektronik yang tersedia di pasaran. Data yang didapat kemudian akan di kirimkan ke cloud server yang ada di UB melalui jaringan seluler. Selanjutnya data-data tersebut ditampilkan dalam website http://loki.ub.ac.id/sb yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

Salah satu perwakilan perangkat desa Sumber Brantas menceritakan bahwa siklus angin di desa sumber brantar adalah siklus tahunan. Namun tahun lalu karakteristik anginnya sangat berbeda sehingga sempat menimbulkan banyak kerugian dan mengganggu aktivitas warga. “Sebagian besar penduduk sumber brantas sudah tidak peka terhadap tanda-tanda alam, sehingga penempatan perangkat hasil Kerjasama Desa Sumber Brantas dengan UB diharapkan dapat membantu dalam memberikan peringatan dini bagi masyarakat jika terjadi hembusan angin yang tidak semestinya”, ujar Purwanto selaku Sekretaris Desa Sumber Brantas.

Selain untuk upaya melindungi keselamatan warga sekitar, pemasangan alat ini juga untuk pengumpulan data cuaca yang akan dikirim ke server untuk di rekam dan diteliti kembali. Dengan upaya mitigasi ini, diharapkan dapat mengetahui karakter cuaca dan dapat menjadi peringatan dini kepada masyarakat dengan lebih akurat  serta mengantisipasi bencana di masa depan.

Doktor Mengabdi adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya. Kegiatan ini dilakukan oleh beberapa dosen Pelaksana antara jurusan, program studio maupun fakultas, dengan diketuai oleh seorang Doktor. (Vicky)