Antisipasi Gagal Panen Akibat Hawar Malai Padi di Masa Pandemi

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Dokumentasi infoagribisnis

Tiga mahasiswa Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang (FP UB) melalui kajian artikel ilmiah menemukan solusi mengatasi permasalahan petani dalam menghadapi penyakit hawar malai pada padi.

Tiga mahasiswa tersebut adalah Dyah Ayu Agustin, Elly Qurrotu Ayun, dan Tia Indi Marsya.

Hal yang melatar belakangi solusi tersebut yaitu ketahanan pangan terutama tanaman padi sangat diperlukan di masa pandemi ini.

Hal tersebut dikarenakan padi merupakan makanan pokok di Indonesia.

Namun, banyak masalah dalam upaya tersebut, salah satunya serangan penyakit hawar malai (busuk bulir).

Penyakit hawar malai menyebabkan bulir berwarna kecoklatan dan membusuk (kopong), sehingga menyebabkan gagal panen.

Penyakit hawar malai merupakan penyakit yang terbawa benih dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Bakteri Burkholderia glumae menginfeksi dengan baik pada suhu 30-35°C.

Adanya permasalahan tersebut Tim HPT memanfaatkan potensi Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) untuk mengendalikan penyakit hawar malai padi, memacu pertumbuhan, dan ketahanan tanaman padi.

“Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) berpotensi sebagai agens hayati, pemacu pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen. Sehingga dengan aplikasi PGPB pada tanaman padi dapat mengantisipasi hawar malai dan bisa meningkatkan produksi padi,” kata Dyah.

Berdasarkan artikel ilmiah yang telah dikaji terdapat beberapa bakteri yang berpotensi sebagai PGPB dan mengendalikan hawar malai padi, yaitu Bacillus spp., Enterobacteria sp., dan Streptomyces sp.

Bakteri tersebut mempunyai kemampuan antibakteri yang mampu menekan penyakit hawar malai.

Selain itu, memiliki potensi sebagai biofertilizer dan bioprotektan dengan cara memacu pertumbuhan melalui produksi IAA, auksin, fiksasi nitrogen, pelarut fosfat dll. (DYH/Humas UB).

 See also