Kontribusi IMPALA dalam Misi Kemanusiaan

Sorry, this entry is only available in Indonesian.

Partisipasi IMPALA dalam Misi Pencarian
Partisipasi IMPALA dalam Misi Pencarian

Sejak 1976, Universitas Brawijaya memiliki sebuah Organisasi Konservasi Lingkungan yang diberi nama IMPALA UB atau Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam. Melalui berbagai kegiatan, IMPALA UB menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk mempelajari tentang alam dan lingkungan. Tidak hanya menjalankan misi ekspedisi, IMPALA juga berpartisipasi dalam misi kemanusiaan, salah satunya dalam misi pencarian orang hilang.

Fase awal untuk bisa menjadi anggota dari IMPALA adalah fase pendidikan. Fase ini dimulai ketika lulus DIKLATSAR, yang merupakan gerbang utama untuk bergabung menjadi anggota. Fase pendidikan diwarnai dengan kegiatan pengenalan olah raga alam bebas dan dasar-dasar dalam mengenal sosial ilmiah. Materi dan jenis kegiatannya juga beragam, mengikuti minat serta kemampuan anggota. Setelah lulus fase pendidikan, anggota melanjutkan ke fase pengembangan. Fase dimana materi dan praktek yang dipunyai sudah di tahap advance. Wahana yang dipilih untuk menjadi penyalur juga meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Menurut Alefia Putri Ramadhani selaku Humas IMPALA, keterlibatan unit kegiatan mahasiswa ini sudah berjalan beberapa kali. “Di tahun 2023 saja, kami sudah 3 kali terlibat dalam misi pencarian orang di wilayah Malang Raya”, jelasnya.

Perwakilan IMPALA dalam misi pencarian orang hilang di Sungai Brantas
Perwakilan IMPALA dalam misi pencarian orang hilang di Sungai Brantas

IMPALA sendiri telah bekerjasama dengan beberapa lembaga, seperti WALHI, BASARNAS dan lainnya. “Goes two ways. Kami sering mengajukan diri dan sering ditawari. Sepanjang sesuai  kemampuan sumber daya kami, kami selalu usahakan untuk membantu. Lalu untuk divisi yang turun, selain menyesuaikan lokasi kejadian, biasanya jika personil dari divisi terkait sedang berhalangan atau tidak tersedia, kami masih bisa menurunkan anggota dari divisi lain. Karena di pendidikan sendiri, kami semua sudah mendapatkan dasar dari masing-masing divisi. Dan juga biasanya kita kalo sudah bekerjasama kita itu lebih dipermudah seperti pengadaan alat alat dan juga perizinan” imbuh Alefia.

“Ketika terjadi gunung meletus, kita sudah menurunkan SDM karena kita memiliki kemampuan baik materi, peralatan. Kita juga sudah dianggap mumpuni oleh instansi basarnas pmi. Sejak dulu kita sudah mengikuti proses rescue. Semakin berkembang jaman kita semakin banyak peningkatan skill dan alat. Kita juga makin sering diundang”, ujarnya.

Mengenai feedback dari mengikuti impala ini, Alefia mengaku banyak memberikan pengalaman dan kemampuan baru. “Kegiatan olahraga alam bebas yang biasanya identik dengan mahalnya peralatan, di IMPALA bisa dilakukan dengan murah, dengan persiapan kegiatan yang terakomodir secara menyeluruh. Sehingga segala kemungkinan sampai yang terburuk bisa teratasi karena sudah dipersiapkan dengan matang. Belum lagi karena IMPALA sudah berumur panjang, kami memiliki banyak relasi baik berupa senior, sesama mapala, instansi yang melimpah, yang memudahkan kegiatan organisasi maupun personal. Juga asas organisasi yang merupakan kekeluargaan bukan hanya sekedar omong kosong. Kami sebagai anggota merasa saling memiliki, saling menjadi tempat kembali”, jelasnya.

“Pengalaman rescue, semua bisa dijadikan pengalaman. Tetapi kita lebih tertantang ketika ada bencana nasional seperti semeru, kita stay di posko selama 1-2minggu, pemilihan sdm juga kita berhati-hati memilih siapa yang benar-benar mumpuni. Semua rescue bisa dipelajari karena selalu ada hal baru yang bisa kita dapat”, pungkasnya.