Empat Mahasiswa UB buat Koyo Beraroma Kopi

Empat mahasiswa UB masing-masing Yoravika Dwiwibangga (Kimia 2017), Syafira Roshiana (Kimia 2017), Fadhil Akbar Sugiarto (Kimia 2017), Firza Rajasa Gunawan (Kimia 2018) berinisiatif membuat koyo beraroma kopi, tujuannya untuk meningkatkan minat pemakaian koyo dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Salah satu mahasiswa, Yoravika mengatakan, salah satu kebiasaan masyarakat apabila mengalami nyeri dan pegal pada tubuh kerap mengambil koyo sebagai sasaran pilihan untuk menyembuhkan karena sifat panas koyo.

Oleh karena itu, melalui pendanaan PKM 5 Bidang Tahun 2020, empat mahasiswa yang juga satu tim PKM-K FMIPA UB itu membuat ide sebuah koyo multifungsi bernama Koyo RISA (Ringankan Saja).

“Untuk diketahui, Koyo RISA merupakan koyo multifungsi yang bermanfaat sebagai pereda nyeri, aroma terapi, pengharum, dan pelembab kulit,” katanya.

Didampingi Darjito, S.Si., M.Si selaku dosen pembimbing, konsep yang diusung Koyo RISA adalah inovasi koyo dengan adanya penambahan ekstrak kopi robusta, teh hijau, dan peppermint.

“Sehingga akan menghadirkan inovasi koyo beraroma kopi yang harum dan mampu melembabkan kulit yang baru di dunia kesehatan,” katanya.

Konsep koyo RISA juga mengusung batik dan wayang untuk desain lapisan perekat dan kemasan sebagai media memperkenalkan identitas budaya Indonesia.

Ia menjelaskan, pemanfaatan kopi robusta, teh hijau, dan peppermint dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya alam potensial yang ada di Indonesia.

“Penambahan ketiga bahan ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang enggan menggunakan koyo karena aromanya yang kurang enak dan menyebabkan iritasi kulit setelah penggunaan,” katanya.

Koyo RISA, kata dia, diharapkan dapat menjadi gagasan ide yang solutif dan inovatif serta akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Koyo RISA juga diharapkan mampu membuka peluang usaha baru dan juga menjadi solusi dalam dunia kesehatan untuk menyukseskan program Indonesia Sehat Tahun 2025,” katanya.

Koyo RISA dibuat karena tingginya minat penggunaan koyo di tengah masyarakat.

Namun, seiring berjalannya waktu belum banyak inovasi akan produk koyo ini. Beberapa masayarakat juga masih mengeluhkan pemakaian koyo yang dapat mengiritasi dan meninggalkan bekas pada kulit. Koyo RISA diharapkan bisa turut memanfaatkan Sumber Daya Alam potensial yang ada di Indonesia. [YRV/Humas UB]